Cara memprediksi cuaca tanpa teknologi

Climate4life.info - Memprediksi cuaca tanpa teknologi dapat saja kita lakukan pada saat kita  berada pada situasi tanpa gawai, tanpa internet dan mungkin tanpa listrik. Memprediksi cuaca tanpa teknologi yang pasti akurasinya rendah, namun dapat dipertimbangkan pada saat darurat ataupun kebutuhan tertentu. Menduga atau menaksir kondisi cuaca pada kebutuhan tertentu contohnya seperti saat kita mendaki gunung pada lokasi yang tidak memungkinkan kita mengakses informasi cuaca.  Kita berharap saat mendaki gunung tersebut kita dapat mengantisipasi datangnya cuaca ekstrem. Keadaan lain mungkin saja suatu saat kita berada pada wilayah terkena bencana sehingga jaringan internet dan komunikasi tidak berfungsi.  Pada saat itu kita membutuhkan informasi cuaca yang dapat membantu proses evakuasi korban bencana.

Pada saat ini kemajuan teknologi untuk memprediksi cuaca sudah sangat tinggi. Teknologi untuk memprediksi cuaca dimulai dari peralatan pengamatan cuaca yang otomatis dan digital, jaringan komputer akuisisi data supercanggih, radar cuaca, pemanfaatan satelit cuaca, hingga teknologi Big Data dan Artificial Intelligence. Teknologi tinggi tersebut merupakan bagian untuk meningkatkan akurasi prakiraan cuaca yang dapat memberikan manfaat seperti mitigasi bencana ataupun untuk menyusun perencanaan pembangunan. Kemajuan teknologi untuk memprediksi cuaca kemudian berbarengan dengan kemajuan teknologi sistem informatika membuat informasi cuaca saat ini mudah diakses kapan saja dan dari mana saja, contohnya bot telegram dan aplikasi cuaca dan iklim dengan android. Namun bisa saja suatu saat tanpa bisa kita hindari kita berada pada situasi tanpa teknologi seperti dijelaskan di atas dan kita harus mendapatkan prediksi cuaca tanpa adanya teknologi disekitar kita.

Memprediksi cuaca tanpa teknologi merupakan bentuk warisan kearifan lokal atau merupakan pengalaman empiris dengan membaca tanda-tanda alam. Sekali lagi, meski usaha menduga kondisi cuaca tanpa teknologi akurasinya cukup rendah namun karena didapat berdasarkan pengalaman empiris pada beberapa hal cocok dengan konsep meteorologi atau ilmu tentang cuaca. Keadaan cuaca yang dimaksud dalam artikel ini lebih kepada terjadinya hujan dan angin kencang.

Cara memprediksi cuaca tanpa teknologi cukup sederhana, hanya dengan memerhatikan keadaan di sekitar kita. Mari kita mulai, berikut hal-hal yang dapat menjadi pedoman dalam memprediksi cuaca tanpa peralatan ataupun teknologi.


Udara terasa gerah indikasi akan terjadi hujan deras

Udara gerah dapat menjadi petunjuk untuk memprediksi cuaca tanpa teknologi. Saat udara tiba-tiba terasa gerah adalah pertanda proses pembentukan awan secara masif sedang berlangsung di atmosfer (baca : Udara gerah pertanda hujan, benarkah ?) . Pada saat awal proses pembentukan awan tersebut, uap air yang berubah fasa menjadi butiran air pembentuk tetes awan akan melepaskan panas laten. Panas laten adalah panas yang dibawa uap air saat menguap ke atmosfer. Akumulasi pelepasan panas laten tersebut memanaskan atmosfer sehingga suhu udara meningkat. Kita kemudian merasa gerah, karena naiknya suhu udara tersebut dan diikuti oleh peningkatan kelembapan. Keadaan ini umum terjadi pada daerah kita yang beriklim tropis.

Selanjutnya saat awan-awan terbentuk maka keberadaan awan itu sendiri akan menghalangi radiasi dari bumi baik radiasi pantul dari matahari ataupun radiasi gelombang panjang dari bumi sendiri. Tanpa adanya awan radiasi tersebut akan hilang ke atmosfer, namun karena adanya awan yang terbentuk maka radiasi tersebut kembali ke bumi dan memanaskan suhu udara di sekitar kita. Dampaknya kita akan merasa gerah. Lihat gambar kesetimbangan energi di bawah ini.


Kesetimbangan energi bumi-atmosfer (Sumber : Ahrens, Essential of Meteorologi)

Jika proses awan terus berlanjut dan tanpa ada faktor lain yang dapat memecah awan seperti angin kencang, maka pada titik tertentu awan yang terbentuk tersebut akan jatuh menjadi hujan. Umumnya hujan yang diawali oleh udara gerah akan deras namun berlangsung dalam waktu yang singkat. Nah, inilah mengapa kemudian udara gerah dapat kita gunakan sebagai indikator untuk memprediksi cuaca tanpa teknologi.


Bentuk awan menentukan jenis hujan

Bentuk awan yang kita lihat di atmosfer dapat menjadi petunjuk untuk memprediksi cuaca ke depan. Perhatikan bentuk-bentuk awan di bawah ini.
Prediksi cuaca berdasarkan bentuk awan
Bentuk awan dan potensi cuaca yang dihasilkan (Sumber : Ahrens, Essential of Meteorology)
Gambar di atas menunjukkan bentuk-bentuk awan yang berbeda-beda, ada yang menjulang tinggi dan ada yang memanjang horizontal. Proses pembentuk perbedaan bentuk awan ini dapat dibaca secara lengkap pada artikel mengapa bentuk awan berbeda-beda dan stabilitas atmosfer, penentu ketebalan awan. Berikut kondisi cuaca yang terjadi berdasarkan bentuk awan yang signfikan.

  • Awan Cumulonimbus yang menjulang tinggi maka beberapa saat ke depan berpotensi terjadi hujan deras dan angin kencang. Pada kondisi ekstrem dapat terbentuk hujan es disertai angin kencang
  • Awan Nimbostratus juga akan menghasilkan hujan yang ringan namun terus-menerus. Pada daerah lintang tinggi, awan Nimbostratus dan menghasilkan salju.
  • Awan-awan jenis stratus akan menghasilkan kabut tipis yang disebut mist dan hujan ringan yang terus menerus.
  • Awan Cirrostratus umum terlihat pada saat udara stabil. Jika diikuti oleh terbentuknya awan-awan menengah seperti Altocumulus maka menjadi pertanda akan terjadi hujan ringan dalam 24 jam ke depan. 

Dengan mengenal bentuk awan kita bisa mendapat gambaran prediksi cuaca meski tanpa teknologi.


Warna dasar awan merupakan sinyal cuaca buruk

Petunjuk lain yang dapat kita gunakan untuk memprediksi cuaca tanpa teknologi adalah warna dasar awan.  Awan-awan dengan dasar yang berwarna abu-abu hingga gelap merupakan pertanda akan terbentuknya cuaca buruh berupa hujan deras yang kadang disertai angin kencang.

Dasar awan yang gelap indikator cuaca buruk. (Sumber gambar : wikimedia.org)
Adapun awan-awan dengan warna dasar putih umumnya menunjukkan cuaca cerah hingga beberapa waktu ke depan. Harus dicatat bahwa sistem cuaca sangat kompleks, sehingga satu indikator dapat saja tidak menunjukkan apa-apa karena dominasi faktor cuaca yang lain. Misalnya kita melihat pertumbuhan awan tebal dengan dasar yang gelap. Sejatinya akan terjadi cuaca buruk. Namun adanya faktor lain sepertinya angin yang cukup kencang, maka formasi awan tersebut bisa saja berubah dan punah. Pada akhirnya cuaca dengan hujan deras tidak terjadi.

Demikian sobat beberapa hal yang dapat kita jadikan cara untuk memprediksi cuaca tanpa teknologi.  Terima kasih.

Subscribe to receive free email updates:

14 Responses to " Cara memprediksi cuaca tanpa teknologi "

  1. suara petir juga menggambarkan cuaca om

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas Fajar, dan petir itu karena adanya awan CB

      Hapus
  2. Biasanya udara yang terasa panas terik di kulit, jadi penanda akan turun hujan besar.
    Tanda ini juga sering digunakan oleh masyarakat di daerahku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya bisa jadi mas, kearifan lokal setempat

      Hapus
  3. xixixi asik dapat ilmu baru, nanti kalau mau main harus liat dulu, awannya cerah apa engak, kalau cerah mau pake motor aja hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. sip mba. kelebihan naik motor tuh kalo panas gak keujanan dan kalo ujan gak kepanasan. eh

      Hapus
  4. Udara pasti gerah emnk sudah turun temurun yaa jd pertanda hujan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bang kearifan lokal yang dapat dijelaskan secara sains

      Hapus
  5. Sama bang. Di tempat gue tinggal juga gitu. :)

    BalasHapus
  6. Wah ilmu yang bermanfaat. Jadi ingat waktu SMA pernah bertanya pada guru Biologi, kenapa kalau mau hujan suka gerah.. hehe terjawab dengan jelas di sini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba waktu itu nanyanya ke guru olahraga :)

      Hapus
  7. Bacaan yang menarik, ini pengetahuan yang perlu inih mas, makasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 mas Bisot. Trims kunjungannya

      Hapus

Terima kasih