Pedoman Pengamatan Fenologi menurut WMO

Climate4life - Pedoman Pengamatan Fenologi menurut WMO ini merupakan lanjutan dari artikel Konsepsi Pengamatan Fenologi sebagai bagian Tupoksi Stasiun Klimatologi.
Sampul Buku Pedoman Pengamatan Fenologi oleh WMO

Sebagaimana telah dibahas pada artikel Konsepsi Pengamatan Fenologi sebagai bagian Tupoksi Stasiun Klimatologi, Pedoman pengamatan fenologi diatur oleh WMO dalam Guidelines for Plant Phenological Observations [1].

Fenologi merupakan salah tugas dan fungsi sebuah stasiun agrometeorologi. Hal ini diatur oleh WMO dalam "Guide to Agricultural Meteorological Practices" WMO-No. 134 [2].

Di Indonesia, operasionalisasi pengamatan fenologi yang dilaksanakan oleh jaringan  stasiun klimatologi milik BMKG.

Hal ini sebagaimana diatur oleh Peraturan Kepala BMKG No. 04 Tahun 2016 tentang pengamatan dan pengelolaan iklim di lingkungan BMKG [3].

Form Pelaporan Fenologi oleh stasiun klimatologi - BMKG


Pedoman Pengamatan Fenologi menurut WMO

Menurut WMO buku pedoman ini merupakan rangkaian yang diterbitkan oleh World Climate Data and Monitoring Programme (WCDMP) dimaksudkan sebagai bagian untuk memenuhi kebutuhan anggota WMO dalam kapasitas untuk meningkatkan layanan pengamatan iklim di negara masing-masing.

Buku-buku panduan tersebut   dirancang untuk menyajikan proses dan teknologi solusi dan inovasi yang berusaha mengatasi situasi dan kebutuhan khusus kantor layanan cuaca pada negara-nagara  kecil, yang seringkali memiliki sumber daya terbatas.

Berikut pedoman umum pengamatan fenologi WMO dalam  Guidelines for Plant Phenological Observations, antara lain:

1. Tanaman yang diamati 

Dalam kegiatan fenologi yang di amati adalah tanaman setempat yang dapat ditanam pada lokasi seperti kebun penelitian fenologi internasional.


2. Prinsip pengamatan Fenologi

Pengamatan fenologi murah dan tidak memerlukan instrumen tertentu, karena instrumen pengamatan adalah pohon atau tanaman itu sendiri.

Kegiatan pengamatan cukup dilengkapi dengan form pengamatan sesuai TTP yang disepakati. Mungkin memerlukan sebuah teropong yang digunakan mengamati pohon yang tinggi.

Pencatatan tahapan tanaman harus dalam tanggal yang spesifik, tidak cukup hanya dengan menulis "pada awal bulan" dan sejenisnya.

Tanaman yang diamati adalah tanaman yang mewakili daerah pengamatan dan dilakukan pada tanaman yang sama untuk bertahun-tahun lamanya.

Pada tanaman tahunan misalnya, pohon asli atau hutan, semak-semak atau pohon buah dilakukan pada satu pohon individu tanaman.

Untuk pengamatan pada tanaman herba (tanaman yang tidak berpokok kayu) dilakukan pada beberapa individu tanaman pada lokasi yang sama.

Untuk tanaman semusim diamati saat pertama kali dibudidayakan pada lahan tanamnya dan perlu dilengkapi catatan tambahan yang mempengaruhi fase fenologinya seperti adanya pengairan.

Frekuensi pencatatan tergantung pada fase pertumbuhan dan kondisi musim. Misalnya untuk daerah lintang menengah dan tinggi, pada saat musim semi pencatatan dilakukan setiap hari. Pada saat musim gugur dan dingin cukup dua kali seminggu.

Lebih baik melakukan pengamatan pada sedikit tanaman namun dilakukan dalam series waktu yang sangat panjang dan dengan data yang lebih berkualitas.


3. Pemilihan Jenis Tanaman

Pemilihan tanaman bergantung pada tujuan pengamatan fenologi (pertanian, kesehatan manusia, pemantauan perubahan iklim, pendidikan, informasi publik, keanekaragaman hayati, dll.) dan di zona vegetasinya sendiri (terutama terkait dengan iklim). 

Hal ini dilakukan karena sulit untuk menemukan tanaman yang dapat diamati di semua wilayah iklim di dunia dan cocok untuk semua tujuan.

Tanaman yang diamati harus dikenal secara umum dan mudah diidentifikasi.  Tanaman tersebut terdistribusi luas di wilayah tempat pengamatan.

Di dalam jaringan pengamatan fenologi harus ada tanaman yang memiliki fase fenologi yang mencakup siklus vegetasi dalam satu tahun seperti keluarnya daun, tumbuhnya tunas, berbunga, warna saat musim gugur dan gugurnya daun.
Contoh sampel tanaman yang diamati dalam kegiatan fenologi


4. Fase yang diamati

Untuk mendapatkan data fenologi yang sebanding perlu untuk menentukan secara tepat fase-fase (tahap pertumbuhan tanaman ) yang harus diamati, yang dapat mengacu pada skala BBCH yang telah dikembangkan.

BBCH adalah singkatan dari Biologische Bundesanstalt, Bundessortenamt and CHemical. Prinsip pertumbuhan tanaman seperti terlihat Tabel BBCH [4] di bawah ini.

Tabel Prinsip Pertumbuhan Tanaman


5. Lokasi pengamatan

Lokasi tempat tanaman yang diamati merupakan area pengamatan yang khas. Radius tanaman yang diamati sekitar 1,5 - 2 km dari stasiun pengamatan.

Jarak maksimal yang dapat diterima maksimal 5 km.

Koordinat dan ketinggian lokasi pengamatan harus diukur dimana area ketinggian lokasi pengamatan ketinggiannya tidak boleh lebih dari 50 m di atas atau di bawah dari elevasi stasiun pengamatan.


6. Waktu dan frekuensi pengamatan


Frekuensi pengamatan tergantung pada musim dan varietas tanaman. Pada kawasan dengan iklim sedang saat periode vegetasi utama, saat suhu udara sangat menguntungkan tanaman, pengamatan dilakukan setiap hari karena tanaman berkembang sangat cepat.

Saat proses yang lambat seperti fase pematangan buah, maka pengamatan dilakukan 2-3 kali seminggu.


7. Pelaporan

Form pelaporan data merupakan bagian tidak terpisahkan dari kegiatan fenologi.

Fase tanaman dikelompokkan secara kronologis berdasarkan kenampakannya dalam satu tahun, atau dikelompokkan berdasarkan jenis tanaman mengikuti perkembangan alami masing-masing tanaman. 

Pengiriman data fenologi secara online tentunya akan lebih cepat dibanding pengiriman dengan cara manual.
Form pelaporan observasi fenologi online milik USA-NPN [5] 

Secara umum pengiriman form pelaporan dapat dilakukan dua kali setahun ke bagian pengolahan data fenologi. Prosedur pengamatan juga harus jelas guna memudahkan pengamat.

Analisis menggunakan gambar dan grafik akan lebih membantu untuk mengilustrasikan hasil kegiatan fenologi.

Demikian sobat, artikel Pedoman Pengamatan Fenologi menurut WMO. Semoga bermanfaat.

REFERENSI :

[1] WMO. 2009. Guidelines for Plant Phenological Observations. World Climate Programme- World Climate Data and Monitoring Programme. WCDMP-No. 70

[2] WMO. 2010. "Guide to Agricultural Meteorological Practices" WMO-No. 134.

[3 BMKG. 2016. Pengamatan dan Pengelolaan Iklim di lingkungan BMKG, Peraturan Kepala BMKG No. 4 Tahun 2016.

[4] Federal Biological Research Centre for Agriculture and Forestry. Growth stages of mono-and dicotyledonous plants.

[5] USANPN. Why Phenology

Post a Comment

0 Comments