Sampai pertangahan Januari 2016, hujan masih "menghilang", Penyebabnya masih sama


Sobat peduli Alam dan Kehidupan, postingan ini, masih serupa dengan 
Dan mungkin dibeberapa daerah di Indonesia curah hujan mulai bergerak naik walau masih dengan sifat di bawah normal

------------------------------
Disclaimer
Tulisan ini adalah opini pribadi, tidak mewakili sumber-sumber referensi yang disebut dalam tulisan ini. Segala akibat dari penggunaan informasi dalam tulisan ini menjadi tanggung jawab masing-masing pengguna
-------------------------------

Berikut peta anomali curah hujan harian rata-rata 10 hari (09-18 Januari 2016) berdasarkan datasets TCC-JMA.   Wilayah selatan Indonesia masih konsisten dengan anomali negatif, artinya curah hujan lebih rendah dari biasanya. Beberapa tempat ada juga yang menunjukkan anomali positif seperti di bagian Utara Sumatera, bagian selatan Kalimantan dan Maluku hingga barat Papua.

Gambar 1. Anomali Curah hujan 09-18 Januari 2016
(Sumber : dataset: TCC-JMA )


Kita mulai dengan pola angin. Kenapa pola angin, sejauh ini pembahasan  cuaca dan iklim biasanya selalu dimulai dengan tinjauan pola angin yang melintas di Indonesia.


Gambar 2. Pola angin  09-18 Januari 2016 lapisan 200mb (atas) dan 850mb (bawah)
(Sumber : dataset: TCC-JMA )


Nampaknya anomali angin baratan masih terus berlangsung, dimana arus angin dekat permukaan justru mengalir dari timur (Gambar 2 bawah). Pada garis angin dengan pola sejajar dan melebar di atas Jawa hingga Bali dan Nusa Tenggara merupakan daerah yang anomali hujannya negatif. Adapun bagian selatan Kalimantan terdapat pola angn mengumpul sehingga terbentuk pertumbuhan awan.
Pada lapisan atas (Gambar 2 atas) pola angin juga konsisten anomali timuran. Seharusnya pola angin justru mengalir dari timur.

Mengapa terjadi anomali angin baratan ? Mari kita kaji dari suhu muka laut (SST)

Gambar 2. Anomali Suhu Muka Laut (SST)  09-18 Januari 2016
(Sumber : dataset: TCC-JMA )

Pada periode yang sama, ternyata wilayah barat Indonesia SST masih lebih hangat dibanding normalnya. Sedang wilayah timur SSTnya lebih dingin. Gradien tekanan yang timbul akibat perbedaan SST ini menyebabkan aliran massa udara dari timur ke barat, yang menekan monsun baratan.

Dengan sobat pemerhati iklim dan cuaca. Kajian ini bisa diperluas dengan menganalisis anomali angin zonal agar bisa mendapatkan pergerakan sirkulasi walker. Silahkan tambahkan analisis anda

Salam,
BeDe

Dukung Kami
Jika menurut anda artikel ini bermanfaat, maukah mentraktir saya secangkir kopi?

Post a Comment

0 Comments