Jurnal tentang Perbandingan Data Iklim Pengukuran Manual dengan Alat Otomatis

Climate4life.info - Berikut adalah jurnal yang membahas tentang perbandingan data iklim manual dengan data iklim hasil pengukuran alat otomatis.

Jurnal lengkap dapat diakses pada laman Jurnal Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) Puslitbang BMKG.
Baca: 4 Jurnal Nasional Untuk Publikasi Karya Ilmiah Tentang Meteorologi, Klimatologi dan Sains Atmosfer


Identitas Jurnal

  • Judul : Analisis Bias Data Observasi Paralel Di Stasiun Klimatologi Mempawah-kalimantan Barat 
  • Penulis : Firsta Zukhrufiana S, Syf. Nadya Soraya, Siswanto, Wandayantolis
  • Penerbit : JMG - Puslitbang BMKG
  • Edisi : Volume 20 No. 1 2019



Abstrak 

Abstrak dalam jurnal yang membahas tentang perbandingan data iklim manual dengan data iklim hasil pengamatan alat otomatis ini ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sesuai standar jurnal pada JMG.

Dalam abstrak tersebut para penulis menyebutkan latar belakang singkat, metode yang digunakan dan hasil-hasil yang telah diperoleh.


Latar Belakang 

Dalam jurnal tentang perbandingan data iklim manual dengan data iklim hasil pengamatan alat otomatis ini, disebutkan penggunaan AWS (Automatic Weather Station) di Stasiun Klimatologi Mempawah telah dimulai sejak tahun 2006.

Adapun pengamatan manual telah dilakukan sejak tahun 1982.
Baca juga:

Disebutkan juga dalam hal otomatisisasi yang bertujuan menggantikan pengamatan manual dengan pengamatan alat-alat otomatis, WMO mensyaratkan perlunya pengujian data paralel antara pengukuran otomatis dan pengukuran manual.

Untuk itulah jurnal ini disusun. Hal serupa juga pernah dilakukan ditempat lain sebagaimana dalam pustaka yang dikutip, antara lain:

  • Wang Ying, Liu Xiaoning, Ju Xiaohui. “Differences between Automatic and Manual Meteorological Observation”. TECO-2006 - WMO Technical Conference on Meteorological and Environmental Instruments and Methods of Observation. Geneva. 2006

  • Aldrian, Edvin. “Perbandingan Data Pengamatan Parameter Meteorologi Antara Metode Manual dan Otomatis Melalui Otomatisasi Instrumen Cuaca dan Iklim Menggunakan Agroclimate Automatic Weather Station,” Laporan Tahunan Hasil Penelitian Puslitbang 2014. Jakarta. 2014.


Data dan Metode 

Data yang digunakan dalam jurnal tentang perbandingan data iklim manual dengan data iklim hasil pengamatan alat otomatis ini adalah data pengamatan manual dari alat-alat manual dengan data hasil pengamatan otomatis dari alat AWS di Stasiun Klimatologi Mempawah selama tahun 2015.

Data iklim tersebut meliputi suhu minimum harian, suhu maksimum harian, dan curah hujan harian dengan kategori hujan ringan (=<20 mm/hari), hujan sedang (21 – 50 mm/hari, hujan lebat dan sangat lebat (>51 mm/hari).

Adapun metode yang digunakan para penulis yang dengan melakukan perbandingan dua atau lebih deret waktu hasil pengamatan konvensional dan otomatis dengan menguji kedua data tersebut dengan beberapa metode statistik, diantaranya: 
  • metode korelasi dan regresi (RMSE),
  • homogeneity test menggunakan uji Levene, dan 
  • tabel kontingensi (contingency table). 
Diagram alir langkah kerja


Pembahasan 

  • Suhu Minimum
Perhitungan RMSE menunjukkan deviasi data iklim untuk unsur suhu minimum AWS dengan manual adalah sebesar 1.22 ⁰C, dengan nilai rata – rata suhu minimum pengukuran manual lebih besar dari AWS, sehingga terdapat perbedaan antara data AWS dan pengukuran manual.

Ketepatan data iklim untuk suhu minimum pengukuran AWS terhadap data manual, berdasarkan matriks kontingensi tersebut dapat pula diketahui adalah sebesar 34.5%, dengan persentase terbesar pada kelas interval 24.0 - 25.0 C.  

  • Suhu Maksimum
Hasil perhitungan RMSE menunjukkan deviasi suhu maksimum AWS dengan manual adalah sebesar
1.69 C di mana rata – rata suhu maksimum pengukuran manual lebih kecil dari AWS.

Berdasarkan matriks kontingensi tersebut dapat pula diketahui bahwa ketepatan pengukuran AWS
terhadap data manual adalah sebesar 34.0%, dengan persentase terbesar pada klasifikasi 31.3 - 32.5 C.

  • Curah hujan
Deviasi curah hujan “Ringan” AWS dengan manual dengan metode RMSE adalah sebesar 5.1 mm. Untuk curah hujan “Sedang” sebesar 14.6 mm dan curah hujan “Lebat dan Sangat Lebat” deviasinya mencapai 38.4 mm.

Adapun berdasarkan matriks kontingensi, diperoleh hasil ketepatan pengukuran AWS terhadap data manual adalah sebesar 52.4%, di mana persentase terbesar berada pada klasifikasi curah hujan ringan.

Kesimpulan 

Berdasarkan hasil dan pembahasan pada jurnal tentang perbandingan data iklim manual dengan data iklim hasil pengamatan alat otomatis tersebut, para penulis berpendapat bahwa alat pengamatan otomatis (AWS) belum memiliki kapasitas cukup untuk menggantikan pengamatan manual.

Oleh karenanya pengamatan otomatis dan manual idealnya berjalan secara paralel hingga diperoleh hasil yang lebih valid.

----0000----


Demikian ulasan  jurnal yang membahas tentang perbandingan data iklim manual dengan data iklim hasil pengamatan alat otomatis ini. selengkapnya dapat dibaca pada dokumen di bawah ini.


--- Semoga bermanfaat ---

Post a Comment

10 Comments

  1. Menarik nih, rata-rata pengukuran suhu min. manual > AWS, tapi untuk suhu max. manual < AWS. Kalau di kehidupan nyata, margin 1-2 derajat gini kita bisa ngerasain gak sih bedanya?

    Btw kalau di sini pengamatan manual dijadikan benchmark buat AWS yah. Padahal di jurnalnya disebutkan beberapa kekurangan dari pengamatan manual seperti kesalahan paralaks (baca) sampai kelalaian pengamat. Sebenarnya sejauh mana yah tingkat keakuratan pengecekan manual itu sendiri bang?

    Satu lagi, saya kelewat baca atau tidak yah, data yang digunakan sebagai perbandingan adalah data harian tahun 2015. Dan di akhir jurnal disebut bahwa salah satu penyebab margin Manual vs AWS adalah waktu pengematan yang tidak tepat. Terus pada bagian kesimpulan ada saran agar pengamatan otomatis dan manual berjalan secara paralel. Ini berarti kalau ngukur itu, manual dan AWS tiak berbarengan di tempat dan waktu yang sama kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh berat banget komennya mas hehe. 1-2 derajat memang kurang signifikan untuk manusia tapi dalam standar pengamatan iklim faktor koreksi suhu adalah 0,2 derajat Celcius mas.

      Pengamatan manual memang memang mengandung kelemahan namun dapat di atasi dengan standar pelatihan dan juknis yang jelas. Kemudian peralatan manual juga selalu dikalibrasi minimal dua tahun sekali. Sejauh ini pengamatan manual masih lebih berkualitas dari peralatan otomatis.

      Ya margin dari kedua data karena timing pengamatan. Misalnya pengamatan manual dilakukan setiap pukul 7 pagi. Pada prakteknya bisa bergeser beberapa menit lebih awal atau lebih mundur. SOPnya memberikan toleransi H-15 s.d H+10.

      Sedang alat otomatis sudah pasti timingnya lebih pasti. Nah jadi saat perbandingkan data pkl 07 jelas tidak bener2 jatuh pada pukul 07 ut data pengamatan manual.

      Saran pengamatan tetap paralel memang untuk menemukan faktor koreksi antara alat manual yang sudah teruji dengan alat otomatis yang masih dalam taraf uji coba

      Delete
    2. Wah mantap, terima kasih jawabannya bang, kayaknya saya selalu dapat ilmu baru nih kalau main ke blog ini. #top

      Delete
    3. Trims kembali mas, trims komennya yang sangat membangun

      Delete
  2. namanya juga alat pasti punya kelemahan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama dlm batas toleransi dpt saja diterima mas

      Delete
  3. artikel yang sangat ilmiah...tetapi sangat bagus kerana jika maklumat cukup dan lengkap maka mudah untuk membuat keputusan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mba, membuat keputusan baiknya bersandar pada kajian ilmiah

      Delete
  4. Kalau pengamatannya pakai alat otomatis hasilnya juga lebih akurat sehingga penelitiannya lebih berguna

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas, namun sebelum menjadi alat utama, harus diuji dulu akurasi datanya

      Delete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon tidak meletakkan link hidup yah.