Sejarah pengamatan cuaca dan iklim di Indonesia - bagian satu

Climate4life.info - Sejarah pengamatan cuaca dan iklim di Indonesia merupakan catatan panjang sejak zaman penjajahan Belanda hingga sekarang. Beberapa lokasi stasiun pengamatan cuaca dan iklim saat ini merupakan titik pengamatan cuaca dan iklim warisan dari Belanda. Tulisan sejarah pengamatan cuaca dan iklim di Indonesia ini terbagi menjadi dua bagian. Sejarah pengamatan cuaca dan iklim di Indonesia menurut BMKG [1] dimulai pada tahun 1841 yang merupakan kegiatan pengamatan cuaca dan iklim secara perorangan. Adalah Dr. Onnen seorang dokter militer yang menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit di Bogor bersama asistennya yang melakukan pengamatan cuaca dan iklim  tersebut  [2]. Mereka digaji secara khusus oleh pemerintah untuk melakukan pengamatan cuaca dan iklim.  Lokasi pengamatan terletak di sebelah kiri pintu masuk Kebun Raya Bogor dengan koordinat 1080 47’ 54.8” BT and  60 36’ 9.00” LS. Elevasi tempat pengamatan diperkirakan 252-283 m di atas permukaan laut.

Sangkar Meteorologi jaman Belanda di Pangrango
Sangkar Meteorologi jaman Belanda di Pangrango, sumber [3]

Catatan yang terpublikasi menyebutkan pengamatan dimulai pada 16 September 1841 hingga Desember 1954 kemudian diperpanjang hingga Juni 1855. Pengamatan dilakukan dua kali sehari. Lebih lanjut G.P Konnen dkk [3] menyebutkan berdasarkan dokumen  Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) terdapat bukti bahwa pengamatan dilakukan hingga Desember 1864, di mana data pengamatan setelah tahun 1855 dikirim setahun hingga dua tahun sekali kepada Kementerian Koloni di Belanda dan diteruskan ke KNMI namun tidak dipublikasikan. Catatan pengamatan periode 1855-1864 tersebut tidak dapat ditemukan baik catatan berbahasa Belanda maupun yang berbahasa Indonesia.

Menurut Surjadi Wh. [4] jauh sebelum 1841 telah ada pengamatan cuaca dan iklim insidentil  seperti misalnya data pengamatan suhu dan tekanan atmosfer di Jakarta yang dilakukan oleh nakhoda kapal yang sedang berlabuh di Jakarta pada Januari 1758, perhitungan hari hujan di Jakarta tahun 1778, pengamatan badai di Laut Banda, pengamatan cuaca laut oleh vessels Gouverments Marine Jakarta pada 2 April 1778.

Publikasi majalah Nature [5] menyebutkan bahwa gagasan untuk mendirikan sebuah lembaga yang menangani kegiatan meteorologi di Hindia Belanda (sebutan Indonesia sebelum merdeka) berasal dari Baron A. v. Humboldt di tahun 1856. Ia menjelaskan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda pentingnya sebuah observatorium magnetik dan meteorologi di Batavia (sekarang Jakarta) guna mempromosikan ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan fenomena magnetik dan meteorologi di daerah Tropis sebagaimana yang ada di India dan Australia. Gagasan ini didukung penuh oleh The Amsterdam Academy yang kemudian mengundang Prof. Buys Ballot yang menjabat sebagai Direktur Meteorologi Belanda di Utrecht untuk membuat perencanaan. Berkat dukungan para akademisi di Academic of Science di Amsterdam, pada 1957 Prof. Buys Ballot merampungkan proposalnya dengan perencanaan yang meliputi :
  • Pendirian observatoriun magnet dan meteorologi di Batavia (Jakarta); 
  • Pengorganisasian pengamatan meteorologi tingkat II (pengamatan meteorologi tiap 3 jam) di tempat-tempat lain di kepulauan Hindia Belanda; 
  • Survei magnet bumi di tempat lain di kepulauan Hindia Belanda dalam kaitannya dengan pengamatan magnet tetap yang dilakukan di Batavia.

Pada 1859 Dr. P. A. Bergsma kemudian ditunjuk memimpin kegiatan persiapan pendirian observatorium magnet bumi dan meteorologi tersebut. Selama 1959 hingga 1966 Dr. P. A. Bergsma melakukan berbagai kegiatan guna mewujudkan pembangunan Observatorium Magnet bumi dan Meteorologi yang dapat beroperasi secara sempurna di antaranya melakukan studi banding ke Eropa, mengajukan anggaran pembelian alat-alat pengamatan kepada pemerintah Belanda hingga perjuangan pendirian kantor Observatorium Magnet bumi dan Meteorologi [4].

Pengamatan meteorologi perjam dimulai pada 1866 [5] tepatnya 1 Januari 1866, sehingga tanggal tersebut oleh pemerintah Hindia Belanda ditetapkan secara resmi sebagai tanggal berdirinya Observatorium Magnet bumi dan Meteorologi di Batavia [4]  dan Dr. P. A. Bergsma ditunjuk sebagai direkturnya [1]. Karena keterbatasan anggaran pembangunan jaringan pengamatan meteorologi tingkat II guna mengamati cuaca dan iklim di tempat-tempat lain di kepulauan Hindia Belanda belum dapat dilakukan. Namun pengamatan angin oleh pengamat tidak resmi banyak dilakukan di banyak tempat yang kemudian datanya dikumpulkan oleh observatorium [5].

Bangunan Observatorium Magnetik dan Meteorologi, sumber [4]
Bangunan Observatorium Magnetik dan Meteorologi pada gambar di atas dibangun pada tahun 1875, yang terletak di sekitar Sungai Cliwung yang masuk wilayah Kwitang. Theo Brandsma [1] menggambarkan letak dan denah Observatorium Magnetik dan Meteorologi seperti pada gambar di bawah ini.

letak dan denah Observatorium Magnetik dan Meteorologi
Letak dan denah Observatorium Magnetik dan Meteorologi 
Pada tahun 1879 Dr. Bergsma mengorganisasikan suatu sistem pengamatan curah hujan di seluruh kepulauan yang sejak itu secara teratur dilanjutkan [5]. Dengan cara tersebut dapat dikumpulkan data hujan dari 95 lokasi yang berasal dari :

  • 55 tempat di Jawa
  • 22 tempat di Sumatra, 
  • 2 tempat di Bangka, 
  • 1 tempat di Biliton, 
  • 8 tempat di Borneo (Kalimantan), 
  • 4 tempat di Selebes (Sulawesi), 
  • 1 tempat di Amboina (Ambon),
  • 1 tempat di Banda, 
  • 1 tempat di Ternate. 
Menurut catatan Surjadi Wh. [4] sampai tahun 1878 jaringan pengamatan bertambah menjadi 74 stasiun di Jawa dan 44 di luar Jawa. Jumlah ini terus bertambah di mana awal tahun 1884 menjadi 90 stasiun di Jawa dan 77 di luar Jawa. Pada 1 Januari tahun 1879 buku yang berisi kompilasi data pengamatan hujan dari tempat-tempat pengamatan tersebut untuk pertama kali diterbitkan [4]. 

Demikian bagian pertama sejarah pengamatan cuaca dan iklim di Indonesia. Bagian dua akan diterbitkan selanjutnya.

REFERENSI :
[1] BMKG. Profil-Sejarah

[2] G. P. KO¨ NNEN, dkk. 1998. Pre-1866 Extensions of the Southern Oscillation Index Using EarlyIndonesian and Tahitian Meteorological Readings. Journal Of Climate. American Meteorology Society, Volume 11.
[3] Theo Brandsma. 2012. Hourly meteorological observations of Batavia/Jakarta in the 1866-1980 period. International workshop on the digitization of historical climate data the new SACA&D databases and climate analysis in the Asian region.
[4] Surjadi Wh. PUSTAKA CUACA. Kapan Pengamatan Cuaca Mulai Dilakukan Di Indonesia. 

Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to " Sejarah pengamatan cuaca dan iklim di Indonesia - bagian satu "

  1. Bangunan Observatorium Magnetik dan Meteorologi ternyata usianya telah tua juga. Dan Belanda juga meninggalkan ilmu pengetahuan, tidak hanya meninggalkan bekas luka jajahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi sepertinya tidak sebanding antara ilmu dengan luka yang diwariskannya bang :(

      Hapus
  2. Wah cukup panjang juga ya sejarah pengamatan cuaca dan iklim di indonesia, segala sesuatu pasti ada hikmahnya, ini adalah salah satu contoh hikmah negara kita pernah dijajah oleh negara lain, tapi sayang penjajahannya lebih terasa sakit dari hikmah yang didapat :D ilmu yang didapatkan kan terus dikembangkan oleh orang-orang diindonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. walopun ilmunya secuil dibanding derita penjajahan, semoga tetap ada manfaatnya yah

      Hapus

Terima kasih