Puluhan Tahun Riset Atmosfer Menjelaskan Satu Hal: Chemtrail adalah Pseudoscience

Sebuah foto yang diambil di Barcelona pada pukul 11.00 UTC (sekitar jam 1 siang waktu setempat) tanggal 21 September 2011, saat langit hampir seluruhnya dipenuhi jejak putih pesawat
Gambar:https://www.redalyc.org/

Setiap kali garis putih memanjang muncul di langit, sebagian orang langsung menyebutnya sebagai chemtrail.

Klaim ini sering disertai kecurigaan tentang penyemprotan zat kimia, rekayasa cuaca, hingga teori pengendalian populasi.

Namun, sains atmosfer telah membahas fenomena ini selama puluhan tahun dan kesimpulannya tegas: chemtrail tidak pernah terbukti ada dan diklasifikasikan sebagai pseudoscience.

Memuat...
alert-success

Artikel ilmiah berjudul Aircraft clouds: From chemtrail pseudoscience to the science of contrails secara khusus membedah klaim chemtrail dan menunjukkan bahwa semua dugaan tersebut dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sains tentang contrail.



Apa Itu Contrail?

Contrail adalah singkatan dari condensation trail, yaitu jejak kondensasi yang terbentuk di belakang pesawat terbang. Fenomena ini terjadi ketika uap air dari gas buang mesin pesawat bertemu udara yang sangat dingin dan lembap di ketinggian jelajah, biasanya di atas 8–12 kilometer.

Pada kondisi tersebut, uap air langsung mengembun dan membeku menjadi kristal es. Kristal-kristal inilah yang terlihat dari permukaan bumi sebagai garis putih di langit. Proses ini alami, spontan, dan pasif, sepenuhnya dikendalikan oleh kondisi atmosfer, bukan oleh maksud manusia.

Contrail bukan fenomena baru. Jejak serupa telah diamati sejak era awal penerbangan jet, bahkan sebelum istilah contrail populer digunakan. Artinya, fenomena ini sudah lama dikenal dan dipelajari jauh sebelum narasi chemtrail muncul di ruang publik.



Mengapa Contrail Bisa Berbeda-beda?

Salah satu sumber utama kesalahpahaman adalah variasi bentuk contrail. Ada contrail yang cepat menghilang dalam hitungan detik, ada pula yang bertahan lama dan menyebar hingga tampak seperti awan tipis.

Sains atmosfer menjelaskan perbedaan ini dengan sangat sederhana. Jika udara di ketinggian tersebut relatif kering, kristal es akan cepat menguap dan contrail pun menghilang. Namun jika udara sangat lembap dan stabil, kristal es dapat bertahan, tumbuh, dan menyebar mengikuti pola angin.

Perubahan bentuk contrail bukan bukti penyemprotan zat kimia, melainkan indikator kondisi atmosfer. Inilah poin penting yang sering diabaikan dalam narasi chemtrail.



Apa Itu Cloud Seeding dan Mengapa Sering Disamakan?

Kesalahan lain adalah menyamakan contrail dengan modifikasi cuaca atau cloud seeding. Padahal keduanya adalah fenomena yang sama sekali berbeda.

Cloud seeding merupakan kegiatan aktif dan terencana, dilakukan di dalam awan potensial hujan. Proses ini melibatkan penyemaian partikel tertentu untuk membantu pertumbuhan butir hujan atau es. Operasinya terbatas, lokasinya spesifik, dan diawasi secara meteorologis.

Sebaliknya, contrail terbentuk di udara bebas, sering kali di luar sistem awan hujan, tanpa bahan tambahan, dan tanpa tujuan mengubah cuaca. Secara fisika, lokasi, proses, dan dampaknya sama sekali berbeda.

Menyamakan contrail dengan cloud seeding adalah kesalahan konsep dasar dalam meteorologi.



Chemtrail dan Ciri Pseudoscience

Jurnal Aircraft clouds secara eksplisit menyebut chemtrail sebagai pseudoscience. Istilah ini merujuk pada klaim yang tampak ilmiah, tetapi tidak memenuhi kriteria sains.

Beberapa ciri utama pseudoscience dalam narasi chemtrail antara lain:
  • Tidak didukung data pengukuran atmosfer yang konsisten
  • Tidak dapat diuji atau direplikasi
  • Mengabaikan hukum fisika dasar
  • Bergantung pada asumsi dan kecurigaan, bukan observasi terverifikasi
  • Tidak pernah lolos publikasi ilmiah bereputasi

Selama puluhan tahun penerbangan modern, tidak ada satu pun penelitian kredibel yang menemukan bukti zat berbahaya dalam contrail atau mendukung klaim penyemprotan rahasia berskala global.



Mengapa Narasi Chemtrail Tetap Bertahan?

Chemtrail bertahan bukan karena kuat secara ilmiah, tetapi karena narasi sederhana sering terasa lebih meyakinkan daripada penjelasan ilmiah yang kompleks. Garis putih di langit terlihat jelas, sementara proses fisika atmosfer terjadi tak kasat mata.

Media sosial juga berperan besar dalam mempercepat penyebaran klaim tanpa verifikasi. Foto dan video contrail sering dilepaskan dari konteks ilmiahnya, lalu diberi makna yang menyesatkan.

Padahal, sains bekerja dengan cara sebaliknya. Setiap klaim harus diuji, diukur, dan dibuktikan.



Konsensus Ilmiah Tentang Contrail

Hingga hari ini, konsensus ilmiah global menyatakan bahwa contrail adalah fenomena fisika atmosfer, bukan alat penyemprotan.

Dampak contrail terhadap iklim memang diteliti, terutama terkait pembentukan awan cirrus buatan, tetapi itu adalah isu berbeda dan terbuka secara ilmiah, bukan konspirasi tersembunyi.

Transparansi penelitian inilah yang justru bertolak belakang dengan klaim chemtrail.



Kesimpulan

Puluhan tahun riset atmosfer telah memberikan jawaban yang konsisten dan dapat diverifikasi. Chemtrail tidak pernah ada dan diklasifikasikan sebagai pseudoscience.

Garis putih di langit adalah contrail, hasil interaksi uap air dan kondisi atmosfer di ketinggian.

Memahami contrail bukan soal memenangkan perdebatan, tetapi soal literasi sains. Ketika kita memahami cara kerja atmosfer, kecurigaan yang tidak berdasar akan runtuh dengan sendirinya.

Langit tidak sedang direkayasa secara diam-diam. Ia hanya menunjukkan bagaimana hukum fisika bekerja, seperti yang telah dijelaskan sains sejak lama.

Referensi:
  • Aircraft clouds: From chemtrail pseudoscience to the science of contrails, DOI: https://doi.org/10.7203/metode.8.9954

Climate4life.info mendapat sedikit keuntungan dari penayangan iklan dan digunakan untuk operasional blog ini.

Jika menurut anda artikel ini bermanfaat, maukah mentraktir kami secangkir kopi melalu "trakteer id"?

Post a Comment

0 Comments