Bumi Semakin Kritis! 2025 Merupakan Tahun Terpanas Ketiga dalam Sejarah Manusia

 
Grafik anomali suhu global sejak era pra-industri. Selama 176 tahun terakhir, sepuluh tahun terpanas semuanya terjadi dalam satu dekade terakhir, yaitu sejak 2015. Tahun 2015 dan 2016 yang dulu memegang rekor terpanas kini bahkan sudah tergeser, masing-masing ke posisi kedelapan dan keempat. Tahun 2016 menjadi tahun pertama ketika kenaikan suhu global melampaui 1°C. Setelah itu, batas tersebut kembali terlampaui pada 2020 dan terus terulang selama tiga tahun berturut-turut pada periode 2023 hingga 2025. #NOAA


Perubahan iklim bukan lagi sekadar prediksi masa depan; ia adalah realitas yang kita jalani hari ini. 

Baru-baru ini, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) merilis laporan tahunan yang merangkum kondisi iklim dunia sepanjang tahun 2025. Hasilnya mengejutkan sekaligus menjadi peringatan keras bagi penduduk bumi.

Memuat...
alert-success

Dalam artikel ini, kita akan membedah poin-poin penting dari laporan tersebut, memahami mengapa tahun 2025 menjadi tonggak sejarah baru dalam krisis iklim, dan apa artinya bagi masa depan keberlanjutan planet kita.



2025: Tahun Terpanas Ketiga dalam Sejarah Manusia

Berdasarkan data yang dirilis oleh National Centers for Environmental Information (NCEI) NOAA, tahun 2025 secara resmi dinobatkan sebagai tahun terpanas ketiga sejak pencatatan suhu global dimulai pada tahun 1850.

Suhu permukaan global tahunan pada tahun 2025 tercatat 1,17°C (2,11°F) di atas rata-rata abad ke-20. Angka ini hanya terpaut sedikit di bawah tahun 2024 yang memegang rekor terpanas, dan tahun 2023 di posisi kedua.

Fenomena ini mempertegas tren yang mengkhawatirkan: sepuluh tahun terpanas dalam catatan sejarah semuanya terjadi sejak tahun 2015.



Anomali Suhu di Berbagai Benua

Pemanasan ini tidak terjadi secara merata, namun hampir seluruh permukaan bumi merasakan kenaikannya. Beberapa wilayah mengalami dampak yang jauh lebih ekstrem:

  • Arktik, Eropa, dan Oseania: Mengalami tahun terpanas kedua sepanjang sejarah wilayah mereka.

  • Belahan Bumi Utara: Mengalami suhu daratan yang sangat tinggi, berkontribusi signifikan pada mencairnya es dan salju.



Rekor Panas Lautan: Bom Waktu yang Tersembunyi

Salah satu poin paling krusial dalam laporan NOAA tahun ini adalah mengenai Upper Ocean Heat Content (OHC) atau kandungan panas di lapisan atas samudra.

Lautan memainkan peran vital karena menyerap sekitar 90% kelebihan panas di sistem Bumi akibat emisi gas rumah kaca.

Pada tahun 2025, kandungan panas lautan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Ini adalah tahun kelima berturut-turut di mana suhu lautan terus meningkat tanpa henti. Apa dampaknya?

  • Ekosistem Laut Terancam: Pemutihan karang (bleaching) massal dan migrasi spesies ikan ke wilayah yang lebih dingin.

  • Kenaikan Permukaan Air Laut: Air yang memanas akan memuai (ekspansi termal), yang mempercepat tenggelamnya wilayah pesisir.

  • Energi untuk Badai: Laut yang panas adalah bahan bakar utama bagi terbentuknya badai yang lebih kuat dan destruktif.



Krisis Es Kutub: Arktik dan Antartika di Titik Terendah

Penyusutan es kutub adalah indikator paling visual dari pemanasan global. Hal ini menunjukkan bahwa tahun 2025 adalah tahun yang buruk bagi es laut di kedua kutub bumi.


Arktik (Kutub Utara)

Luas es laut tahunan di Arktik rata-rata hanya mencapai 3,93 juta mil persegi, menjadikannya yang kedua terendah dalam catatan sejarah.

Bahkan, pada bulan Maret 2025, luas maksimum es laut Arktik mencatatkan rekor terendah dalam 47 tahun terakhir.


Antartika (Kutub Selatan)

Kondisi di selatan pun serupa. Luas es laut Antartika pada tahun 2025 merupakan yang ketiga terendah. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa wilayah yang dulunya dianggap lebih stabil dibandingkan Arktik kini mulai menunjukkan kerentanan yang serius terhadap kenaikan suhu global.



Cuaca Ekstrem dan Badai Tropis 2025

Tahun 2025 juga ditandai dengan aktivitas badai yang sangat aktif di seluruh dunia. Pada laporan tersebut mencatat ada 101 badai tropis bernama, di mana jumlah ini jauh melampaui rata-rata tahunan (periode 1991–2020 yang rata-rata hanya 88 badai).

Daya hancur badai ini pun semakin meningkat. Di wilayah Atlantik Utara, terdapat tiga badai yang mencapai kekuatan Kategori 5 (Erin, Humberto, dan Melissa).

Sebagai catatan, Badai Melissa bahkan menyamai rekor "1935 Labor Day Hurricane" sebagai badai terkuat yang menerjang daratan di wilayah Atlantik.



Kenaikan intensitas badai ini berkaitan erat dengan suhu permukaan laut yang tinggi, yang memberikan energi lebih besar bagi sirkulasi atmosfer untuk menciptakan sistem badai yang lebih ganas.



Hilangnya Tutupan Salju di Belahan Bumi Utara

Selain es laut, tutupan salju di daratan juga mengalami penyusutan. Luas tutupan salju di Belahan Bumi Utara pada tahun 2025 adalah yang terendah ketiga dalam catatan sejarah 60 tahun terakhir. 

Hal ini berdampak langsung pada ketersediaan air tawar di musim semi bagi jutaan orang yang bergantung pada lelehan salju untuk pertanian dan konsumsi.



Apa yang Harus Kita Lakukan?

Data dari NOAA ini bukanlah sekadar angka statistik, melainkan potret masa depan yang penuh tantangan. Peningkatan suhu sebesar 1,34°C di atas level pra-industri membawa kita semakin dekat ke ambang batas kritis 1,5°C yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.

Analisis ini dikembangkan untuk mendukung pengambilan keputusan yang tepat bagi pemerintah, bisnis, dan masyarakat. Langkah-langkah mitigasi seperti:

  • Transisi ke Energi Terbarukan: Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

  • Reforestasi dan Konservasi: Melindungi hutan yang berfungsi sebagai penyerap karbon.

  • Adaptasi Infrastruktur: Membangun kota yang tahan terhadap banjir dan cuaca ekstrem.



Kesimpulan

Laporan iklim global 2025 tersebut mengonfirmasi bahwa bumi sedang berada dalam fase pemanasan yang sangat cepat. Dengan rekor panas lautan yang pecah kembali dan hilangnya es kutub secara masif, kebutuhan akan aksi iklim yang nyata menjadi semakin mendesak.

Setiap derajat kenaikan suhu sangat berarti bagi keberlangsungan hidup manusia dan keanekaragaman hayati. Mari jadikan data tahun 2025 ini sebagai momentum untuk berubah, demi planet yang lebih layak huni bagi generasi mendatang.

Referensi: Laporan resmi dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) - "Assessing the Global Temperature and Precipitation Analysis in 2025".

Climate4life.info mendapat sedikit keuntungan dari penayangan iklan dan digunakan untuk operasional blog ini.

Jika menurut anda artikel ini bermanfaat, maukah mentraktir kami secangkir kopi melalu "trakteer id"?

Post a Comment

0 Comments