Climate4life.info - Benarkah El Niño 1877/1878 yang Paling Dahsyat dalam Sejarah? Ini Hasil Kajian Peneliti NOAA
- NOAA menemukan El Niño 1877/1878 memang sangat kuat, tetapi tidak terbukti paling ekstrem dibanding super El Niño modern.
- Keterbatasan data laut abad ke-19 membuat peneliti NOAA memakai rekonstruksi SST ensemble 1000-member untuk menghitung ketidakpastian.
- Dampak El Niño 1877/1878 sangat mematikan karena dunia belum memiliki mitigasi bencana, pangan, dan peringatan dini modern
Pada setiap peristiwa El Niño besar, nama tahun 1877/1878 hampir selalu muncul dalam berbagai literatur klimatologi dunia. Peristiwa ini sering disebut sebagai salah satu El Niño paling ekstrem yang pernah terjadi di Bumi.
Dampaknya bukan hanya berupa kekeringan panjang, tetapi juga memicu gagal panen, kelaparan massal, krisis pangan global, hingga jutaan korban jiwa di berbagai belahan dunia.
Namun muncul pertanyaan penting: apakah El Niño 1877/1878 benar-benar merupakan El Niño terkuat dalam sejarah modern?
Pertanyaan ini akhirnya diteliti secara serius oleh para ilmuwan dari NOAA melalui studi ilmiah berjudul How Significant Was the 1877/78 El Niño?. Penelitian tersebut mencoba menjawab seberapa kuat sebenarnya El Niño abad ke-19 itu dibanding Super El Niño modern seperti 1982/1983, 1997/1998, dan 2015/2016.
El Niño 1877/1878 dan Krisis Kemanusiaan Global
El Niño 1877/1878 terjadi pada masa ketika dunia belum memiliki teknologi pengamatan cuaca modern. Belum ada satelit, buoy otomatis, radar cuaca, maupun sistem peringatan dini iklim seperti sekarang.
Meski demikian, catatan sejarah menunjukkan dampaknya sangat luar biasa.
Di India dan Tiongkok terjadi kekeringan ekstrem yang memicu kelaparan besar. Curah hujan monsun menurun drastis sehingga produksi pangan runtuh.
Di Afrika dan Amerika Selatan, kekeringan panjang menyebabkan krisis air dan gagal panen berkepanjangan. Beberapa penelitian sejarah bahkan memperkirakan puluhan juta orang meninggal akibat kombinasi bencana iklim, wabah penyakit, dan krisis pangan global.
Karena besarnya dampak tersebut, El Niño 1877/1878 kemudian dikenal sebagai salah satu peristiwa ENSO paling mematikan dalam sejarah manusia.
Mengapa Kekuatan El Niño 1877/1878 Sulit Diukur?
Masalah utama dalam menilai kekuatan El Niño abad ke-19 adalah keterbatasan data observasi laut.
Saat ini ilmuwan dapat memantau suhu permukaan laut global secara real-time menggunakan satelit dan jaringan buoy di Samudra Pasifik.
Namun pada tahun 1877, pengamatan laut hanya berasal dari kapal-kapal yang berlayar melintasi samudra. Jumlah datanya sangat sedikit dan tidak merata.
Namun pada tahun 1877, pengamatan laut hanya berasal dari kapal-kapal yang berlayar melintasi samudra. Jumlah datanya sangat sedikit dan tidak merata.
Akibatnya, muncul ketidakpastian besar ketika ilmuwan mencoba merekonstruksi kondisi suhu laut pada masa tersebut.
Inilah yang menjadi fokus penelitian NOAA.
NOAA Menggunakan Rekonstruksi SST Modern
Dalam penelitian tersebut, NOAA menggunakan dataset ERSSTv5 (Extended Reconstructed Sea Surface Temperature version 5), yaitu rekonstruksi suhu permukaan laut global yang banyak dipakai dalam studi ENSO modern.
Yang menarik, peneliti tidak hanya memakai satu simulasi, tetapi menggunakan pendekatan ensemble sebanyak 1000 anggota (1000-member ensemble). Metode ini digunakan untuk menghitung kemungkinan variasi hasil akibat keterbatasan data historis.
Dengan pendekatan tersebut, peneliti dapat mengukur dua hal penting sekaligus:
- Seberapa besar kekuatan El Niño 1877/1878
- Seberapa besar tingkat ketidakpastian datanya
Pendekatan ini penting karena membandingkan El Niño masa lalu dan modern tidak cukup hanya melihat angka indeks Niño saja. Ketidakpastian data juga harus diperhitungkan secara statistik.
Apa yang Ditemukan Peneliti NOAA?
Hasil penelitian NOAA menunjukkan bahwa El Niño 1877/1878 memang termasuk salah satu El Niño terkuat dalam catatan sejarah modern.
Pada rekonstruksi awal, nilai indeks Niño-3 sempat menunjukkan angka sangat tinggi. Namun setelah parameter yang dianggap menghasilkan bias dieliminasi, NOAA mendapatkan estimasi yang lebih realistis.
Nilai Niño-3 El Niño 1877/1878 diperkirakan berada pada kisaran: 2.88 - 3.58 ⁰C, dengan tingkat ketidakpastian sekitar: + 0.58 ⁰C.
Artinya, El Niño 1877/1878 memang sangat kuat dan masuk kategori Super El Niño.
Apakah Lebih Kuat dari El Niño 1997/1998?
Inilah bagian paling menarik dari penelitian NOAA.
Selama ini banyak orang menganggap El Niño 1877/1878 jauh lebih dahsyat dibanding El Niño modern seperti 1997/1998 atau 2015/2016. Namun hasil analisis statistik NOAA menunjukkan hal yang berbeda.
Peneliti menyimpulkan bahwa kekuatan El Niño 1877/1878 ternyata “statistically indistinguishable” dibanding:
- El Niño 1982/1983
- El Niño 1997/1998
- El Niño 2015/2016
Apa artinya?
Secara statistik, tidak ada bukti kuat bahwa El Niño 1877/1878 benar-benar lebih kuat maupun lebih lemah dibanding Super El Niño modern tersebut.
Dengan kata lain, El Niño 1877/1878 memang berada dalam kelompok El Niño paling ekstrem dalam sejarah, tetapi belum bisa dipastikan sebagai yang paling kuat sepanjang masa.
Kenapa Dampaknya Terasa Sangat Dahsyat?
Jika kekuatannya ternyata setara dengan Super El Niño modern, mengapa dampak El Niño 1877/1878 terasa jauh lebih mengerikan?
Jawabannya terletak pada kondisi sosial dan teknologi dunia pada abad ke-19. Saat itu belum ada:
- Sistem mitigasi bencana modern
- Prediksi musim berbasis model iklim
- Distribusi bantuan pangan cepat
- Teknologi irigasi modern
- Sistem logistik global
- Peringatan dini kekeringan
Ketika kekeringan terjadi serentak di banyak wilayah tropis, masyarakat sangat rentan terhadap krisis pangan. Produksi pertanian runtuh, harga pangan melonjak, distribusi bantuan lambat, dan wabah penyakit menyebar luas.
Bencana iklim akhirnya berubah menjadi tragedi kemanusiaan lintas benua.
Pelajaran Penting untuk Dunia Modern
Penelitian NOAA ini memberikan pesan penting bagi dunia saat ini. Super El Niño bukan sekadar fenomena suhu laut di Samudra Pasifik.
Dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor kehidupan manusia, mulai dari:
- pangan,
- sumber daya air,
- kesehatan,
- energi,
- ekonomi,
- hingga stabilitas sosial.
Di Indonesia sendiri, El Niño kuat sering dikaitkan dengan:
- penurunan curah hujan,
- musim kemarau lebih panjang,
- peningkatan risiko karhutla,
- penurunan produksi pertanian,
- serta ancaman krisis air bersih di beberapa daerah.
Karena itu pemahaman terhadap ENSO menjadi sangat penting dalam konteks adaptasi perubahan iklim global.
Apakah Perubahan Iklim Membuat El Niño Semakin Ekstrem?
Ini juga menjadi salah satu isu besar dalam klimatologi modern. Beberapa penelitian menyebut pemanasan global berpotensi meningkatkan frekuensi El Niño ekstrem.
Namun penelitian NOAA ini menunjukkan bahwa El Niño yang sangat kuat ternyata sudah pernah terjadi bahkan sebelum era pemanasan global modern.
Artinya, keberadaan Super El Niño tidak sepenuhnya merupakan fenomena baru akibat perubahan iklim.
Meski demikian, kondisi dunia saat ini berbeda dibanding abad ke-19. Populasi manusia jauh lebih besar, kebutuhan pangan meningkat, dan banyak wilayah menjadi lebih rentan terhadap cuaca ekstrem. Karena itu dampak El Niño di masa depan tetap berpotensi sangat besar.
Tantangan Besar dalam Rekonstruksi Iklim Masa Lalu
Penelitian NOAA juga memperlihatkan betapa sulitnya merekonstruksi iklim masa lalu.
Semakin mundur ke abad sebelumnya, semakin sedikit data observasi yang tersedia. Karena itu ilmuwan harus menggunakan pendekatan statistik dan model rekonstruksi untuk memperkirakan kondisi atmosfer dan laut pada masa lalu.
Menariknya, NOAA melakukan verifikasi unik dengan “mengurangi” data modern agar menyerupai kondisi observasi abad ke-19. Tujuannya untuk menguji apakah model rekonstruksi tetap mampu mengenali El Niño kuat meski data sangat minim.
Hasilnya menunjukkan bahwa metode ERSSTv5 cukup andal dalam merekonstruksi El Niño historis.
Kesimpulan
Selama bertahun-tahun, El Niño 1877/1878 dianggap sebagai El Niño paling dahsyat dalam sejarah manusia. Penelitian terbaru NOAA memperkuat bahwa peristiwa tersebut memang termasuk salah satu Super El Niño terbesar yang pernah tercatat.
Namun secara statistik, kekuatannya ternyata tidak berbeda signifikan dibanding El Niño besar modern seperti 1982/1983, 1997/1998, dan 2015/2016.
Yang membuat El Niño 1877/1878 terasa sangat mengerikan bukan hanya kekuatan iklimnya, tetapi juga kerentanan masyarakat dunia pada masa itu.
Penelitian ini menjadi pengingat bahwa memahami ENSO bukan sekadar mempelajari suhu laut Pasifik, melainkan juga memahami bagaimana sistem iklim global dapat memengaruhi kehidupan manusia secara luas.
Referensi:
Huang, B., L’Heureux, M., Hu, Z.-Z., Yin, X., & Zhang, H.-M. (2020). How significant was the 1877/78 El Niño? Journal of Climate, 33(11), 4853–4867. https://doi.org/10.1175/JCLI-D-19-0650.1




0 Comments
Terima kasih atas komentarnya. Mohon tidak meletakkan link hidup yah.