Mengapa bentuk awan berbeda-beda ?


Dear sobat peduli Alam dan pencari hakikat Kehidupan. Kali ini kita akan membahas tentang awan. Ya.. awan !  Pertanyaan mendasar mengapa bentuk dan ukuran awan berbeda-beda, padahal terbentuk dari material yang sama, uap air !

Gambar 1. Jenis-jenis awan
 (Sumber : Ahrens, Essential of Meteorology)

Kita mulai dengan proses dasar, penguapan dan kondensasi. Penguapan adalah proses perubahan air dari fasa cair ke fasa gas. Pada proses ini, panas yang dibutuhkan diambil dari lingkungan. Penguapan adalah proses utama masuknya uap air ke atmosfer.

Gambar 2. Penguapan versus kondensasi

Kondensasi atau pengembunan adalah proses kebalikan dari penguapan, dimana yang terjadi adalah perubahan air fasa gas ke fasa cair. Pada proses ini terjadi pelepasan panas dari sistem  ke lingkungan. 

Lalu bagaimana kondensasi dapat terjadi ? Saat parcel udara yang berisi uap air mencapai suhu titik embunnya atau titik jenuhnya, maka proses kondensasi terjadi, dan uap air berubah menjadi titik air yang kemudian membentuk awan. Suhu titik embun merepresentasikan suhu dimana udara harus didinginkan tanpa perubahan tekanan dan jumlah uap air agar kejenuhan tercapai.
Tentang suhu titik embun dapat dibaca di sini dan di sini.

Ada 4 cara dimana suhu udara menjadi dingin kemudian proses kondensasi terjadi, yaitu
  • Bersentuhan dengan permukaan yang lebih dingin, contoh sederhana pada gelas yang berisi air es, maka pada sisi luar akan terbentuk tetes air. Tetes air tersebut bersumber dari uap air di luar gelas yang menjadi dingin kemudian mencapai suhu titik embunnya, terjadilah proses kondensasi.
  • Terjadi pelepasan panas dari uap air
  • Bercampur dengan udara dingin
  • Mengembang saat naik ke lapisan yang lebih tinggi. Proses ini menjadi proses utama terbentuknya awan.
Mengacu pada cara ke-4 di atas, pertanyaan selanjutnya, bagaimana udara berisi uap air bisa bergerak naik ke lapisan lebih tinggi. Perhatikan Gambar 3 di bawah ini
Gambar 3. Proses pengangkatan massa udara
 (Sumber : Ahrens, Essential of Meteorology)

Gambar 3a, merupakan ilustrasi proses konvektif. Pemanasan sampel udara dipermukaan bumi menyebabkan kerapatannya berkurang sehingga menjadi lebih ringan. Karena lebih ringan dari udara sekelilingnya, maka sampel udara tersebut akan bergerak naik. Saat bergerak naik, suhu sampel udara tersebut turun dan pada ketinggian tertentu saat suhu titik embun tercapai, maka uap air dalam sampel tersebut mulai mengembun dan mulai membentuk awan.

Gambar 3b, menjelaskan tentang proses orografi dimana udara dipaksa naik karena hambatan pegunungan. Sama seperti proses konvektif, saat udara naik ke lapisan lebih tinggi, suhu sampel udara tersebut turun dan pada ketinggian tertentu saat suhu titik embun tercapai, maka uap air dalam sampel tersebut mulai mengembun dan mulai membentuk awan.

Pada Gambar 3c, hampir mirip dengan proses konvektif namun dalam skala yang lebih luas. Massa udara dari daerah tekanan tinggi bertemu pada daerah tekanan rendah. Pertemuan tersebut membuat massa udara terangkat.

Adapun Gambar 3d, disebut front, dimana massa udara panas bertemu massa udara dingin. Udara yang lebih panas kemudian terangkat dan selanjutnya terjadi proses pengembunan dan terbentuklah awan.

Sebelum keempat proses tersebut, faktor lainnya adalah stabilitas atmosfer yang mempengaruhi gerak vertikal di atmosfer. Lebih lengkap dapat di baca pada :


Nah, demikian sobat peduli iklim dan cuaca, pada akhirnya berbagai kombinasi proses-proses tersebut di atas menghasilkan bentuk dan ukuran awan yang berbeda.

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to " Mengapa bentuk awan berbeda-beda ? "

  1. Yesh ini pelajaran geografi pas kelas 10! Hahaha.
    Eh tapi juga dipelajari dalam pelajaran biologi sih ya Bang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo awan mah dari belum sekolah juga dipelajari

      Hapus
  2. Bentuk awan tuh salah satu kuasa Tuhan sih, cantik banget

    Salam,
    Puput

    BalasHapus

Terima kasih