Mengenal ITCZ, Pembawa Hujan di Indonesia

Climate4life.info - Banyak faktor yang membentuk pola iklim suatu tempat. Untuk wilayah tropis salah satunya adalah ITCZ yang merupakan bagian penting dalam sistem sirkulasi atmosfer di dunia.

ITCZ adalah singkatan dari Intertropical Convergence Zone. Secara harfiah diartikan sebagai daerah pertemuan massa udara antartropis. Beberapa literatur menerjemahkan ITCZ menjadi DKAT atau Daerah Konvergensi AntarTropis.



Mekanisme Terbentuknya ITCZ

ITCZ terbentuk pada daerah tekanan rendah di sekitar kawasan tropis yang kemudian menjadi tempat pertemuan angin pasat dari utara dan selatan bumi.

Angin pasat adalah angin yang berhembus secara tetap sepanjang tahun dari utara dan selatan bumi dan merupakan bagian sel Hadley.

Gambar 1. Pita ITCZ pada saat monsun Asia (Januari) dan monsun Australia (Juli). Gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/File:ITCZ_january-july.png


Pertemuan massa udara atau yang disebut juga konvergensi tersebut akan menyebabkan massa udara naik membuat membentuk potensi awan hujan konvektif. Mekanisme naiknya massa udara oleh ITCZ mengikuti sirkulasi Hadley dalam sistem sirkulasi atmosfer.
Baca: Sirkulasi atmosfer di Indonesia

Karenanya, ciri khas cuaca yang terbentuk saat dilewati ITCZ adalah berupa hujan deras yang terkadang disertai petir dan angin kencang. Oleh sebab itu pula ITCZ disebut sebagai pembawa hujan pada wilayah yang dilewatinya.

Keberadaan pita ITCZ tidak menetap pada satu area saja namun bergerak dinamis mengikuti gerak semu matahari. Selengkapnya tentang gerak semu matahari di sini.

Pada Gambar 1 di atas, pita biru merupakan lokasi paling selatan dari ITCZ di mana saat itu matahari berada di selatan ekuator. Maka pada bulan Januari daerah yang di lewati oleh pita biru tersebut akan mendapat curah hujan yang lebih banyak.

Pola angin di Indonesia pada Januari di mana terjadi pertemuan massa udara dari utara dan dari selatan ekuator yang merupakan fenomena ITCZ

Hal ini sejalan juga dengan pola musim di Indonesia di mana pada Januari sebagai besar mengalami musim hujan. Selengkapnya dapat dibaca pada prakiraan musim hujan dan musim kemarau.

Selanjutnya saat gerak semu matahari berjalan menuju ke utara ekuator maka pita ITCZ juga akan bergerak mengikutnya. Pita merah pada Gambar 1 di atas merupakan posisi paling utara dari ITCZ di mana saat itu matahari berada  di utara ekuator. Curah hujan maksimum terjadi pada kawasan pita merah ITCZ tersebut.

Baca juga:  Hari tanpa bayangan dan cara menghitungnya

Pada saat itu yaitu sekitar bulan Juni dan Juli, sebagian besar wilayah di Indonesia akan mengalami musim kemarau. 

Hal ini karena massa udara dari Indonesia akan terkumpul pada pita merah ITCZ yang berada jauh ke utara dari wilayah Indonesia. 

Pergerakan ITCZ yang dikaitkan dengan awan hujan saat bergerak bolak-balik dari utara ke selatan ekuator dapat diamati pada animasi di bawah ini.

Gambar 2. Pergerakan ITCZ dan estimasi hujan yang mengiringinya. Gambar: https://scied.ucar.edu/docs/why-monsoons-happen


Pergesaran pita ITCZ sepanjang tahun tidak sama setiap tempat. Adanya faktor lain seperti sistem kesetimbangan panas darat an dan lautan serta kondisi topografi pada setiap tempat berperan pada variasi posisi dan lebar ITCZ ini, sebagaimana terlihat pada Gambar 1 di atas.



Dampak ITCZ

Sebagaimana telah diutas di atas, salah satu dampak adanya ITCZ adalah terjadi hujan konvektif pada daerah yang dilewatinya. Berikut dampak lain saat ITCZ terbentuk:

  • Terbentuknya pola hujan ekuatorial 
Sebagaimana terlihat pada Gambar 1 di atas daerah yang berada di antara pita merah dan pita biru akan dua kali dilewati oleh ITCZ dalam satu tahun. Maka daerah tersebut akan mengalami dua kali puncak hujan atau yang sebut sebagai pola hujan ekuatorial.
Pola hujan Ekuatorial di Pontianak. Gambar: https://en.climate-data.org/

Di Indonesia pola hujan ini umumnya terjadi pada daerah-daerah yang tepat di lalui oleh garis khatulistiwa.

  • Terbentuk pola hujan monsunal
Pada wilayah yang hanya satu kali dilewati oleh ITCZ maka hanya akan terjadi satu puncak hujan yaitu di sekitar Desember atau Januari.
Pola hujan monsunal di Surakarta. Gambar: https://en.climate-data.org/

Wilayah di selatan ekuator seperti Jawa Bali dan Nusa Tenggara umumnya memiliki pola hujan monsunal ini.

  • Terjadi defisit hujan hingga kekeringan
Sebagaimana juga telah diulas sebelumnya, ITCZ merupakan daerah konvergensi atau pertemuan massa udara yang membawa uap air dari tempat lain.

Pada saat sistem ITCZ sangat dominan maka akan menarik semua massa udara ke pusat ITCZ. Dampaknya ditempat lain akan kehilangan massa udara yang lembab sehingga menghilangkan potensi terjadinya hujan.

Jika hal ini berlangsung lama maka pada daerah yang kehilangan massa udara tersebut akan terjadi penurunan curah hujan yang memicu terjadinya kekeringan.
Baca: Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH), Indikator Kekeringan Meteorologis

----000----

Demikian ulasan mengenai ITCZ yang merupakan pembawa hujan di Indonesia. Sekedar penutup, cuaca dan iklim merupakan kompleksitas banyak faktor. Interaksi antara faktor lain seperti monsun, adanya el nino dan la nina  akan menghasilkan variabilitas iklim yang berbeda.

Post a Comment

17 Comments

  1. Untuk proses terjadinya hujan, tekanan udara etc. Saya harap Bang Day bikin semacam info grafi agar saya yang type belajarnya pemahaman bisa ngerti. Karena ilmu ini penting banget, si anak lagi banyak tanya. Kenapa terjadi hujan, kenapa ada awan, kok awan kaya rock kalau di langit.
    Agar bisa jadi rujukan saya ini, hahaha
    (Mungkin saya telat belajar, tapi saya harus belajar)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trims ide kerennya bu. Semoga saya dan tim bisa membuat infografis yang mudah dibaca masyarakat umum, gak hanya sesama pemerhati meteorologis

      Delete
  2. Waduh pembawa hujan. :) makasih infonya Bang.. :)

    ReplyDelete
  3. Kalau bahasa gaulnya dari ITCZ kiranya boleh tak bilang kalau ngdatenya kedua udara antar tropis di angkasa yang setelah Mereka berdua berasik maksyuk akhirnya hujan pun turun....
    Kalo dipikirkan masuk logika juga setelah ketemuan.... Basah ya mang... (tau kan apa yang sayah maksudkan?)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gitu yah mang. Gak ngerti saya. Maklum masih polos :D

      Delete
  4. Terkait dengan ITCZ ini, berarti kalau ada yang terkena hujan deras, ada daerah yang kekeringan karena uap airnya tersedot ke garis ITCZ? Kalau di Indonesia, daerah yang seharusnya kering itu laut kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya begitu mekanisme keseimbangannya mba. Secara total jumlah air di bumi tidak berkurang ataupun bertambah. Yang berubah adalah distribusinya.

      Delete
  5. wah dah saya baca, masih ngak mudeng ni, memang bang day ahlinya masalah cuaca hehehe

    ReplyDelete
  6. Memasuki bulan desember ini, didaerah saya hujannya kadang2 aja Bang, tapi biasanya sekali hujan deras, jadi sebagian tempat masih kekurangan air, mungkin bulan januari mulai sering ya Bang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang sih menurut BMKG ada anomali pada mekanisme cuaca dan iklim makanya awal musim hujan jadi mundur

      Delete
  7. Jangan jangan Wilayah Bogor dilewati ITCZ ya...hujan terus soalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo cmn satu lokasi hujan deras dan lainnya gak hujan pastinya bukan mas

      Delete
  8. Ah, senangnya Desember ini di Kota Malang sudah hampir setiap hari hujan. Tapi, termasuk terlambat. Tahun-tahun kemarin Oktober November sudah rajin hujan.

    Kalau sudah hujan, berarti sudah atau sedang dilewati Intertropical Convergence Zone ya Bang? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di berita bahkan sempat hujan es yah.

      Belum tentu ITCZ jika yang hujan baru sebagian kecil

      Delete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon tidak meletakkan link hidup yah.