5 Fakta Fenomena "Indian Ocean Dipole" (IOD), Salah Satu Pengendali Iklim di Indonesia

Climate4life.info - Indian Ocean Dipole atau disingkat IOD merupakan merupakan salah satu faktor pengendali iklim (climate driver) di Indonesia dan juga di negara-negara di kawasan Samudera Hindia.

Kita tahu bersama beberapa faktor yang menjadi pengendali iklim di Indonesia dan juga di dunia antara lain adalah ENSO dengan fenomena El Nino dan La Ninanya,  sirkulasi monsun serta IOD itu sendiri dan juga dinamika suhu muka laut.

Artikel terkait: 

Terjadinya kekeringan pada tahun 1997 ataupun curah hujan yang tinggi sepanjang tahun 2010 di Indonesia adalah contoh anomali iklim yang dipicu oleh interaksi berbagai faktor pengendali iklim di atas.




Pengertian

Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan suatu fenomena naik turunnya suhu permukaan laut dalam periode tidak teratur.

Naik turunnya suhu muka laut dalam indeks menyerupai osilasi,  menyebabkan wilayah barat Samudera Hindia lebih hangat (di fase positifnya) dan lebih dingin (di fase negatifnya) dibandingkan wilayah timur Samudera Hindia.

Indian Ocean Dipole (IOD) sendiri diidentifikasi berdasarkan perbedaan suhu muka laut pada dua kawasan atau dua kutub (dipole) pada Samudera Hindia yaitu di wilayah pantai timur Afrika dan kawasan barat perairan Indonesia, seperti pada gambar di atas.

Studi tentang fenomena Indian Ocean Dipole baru ada sekitar 20 tahun terakhir, dan terhitung belum banyak referensi yang membahas tentang IOD ini [1].
 
Berikut 5 Fakta Tentang Fenomena Indian Ocean Dipole (IOD).



Fakta 1 | Merupakan bentuk penyimpangan pola iklim

Sebagaimana disebutkan di atas, Indian Ocean Dipole (IOD) diidentifikasi berdasarkan perbedaan suhu muka laut pada lautan sebelah timur pantai Afrika dan kawasan perairan barat Indonesia.

Ketika suhu muka laut pada salah satu kawasan tersebut menjadi lebih panas ataupun lebih dingin dari biasanya maka akan menyebabkan perubahan sirkulasi udara dan juga arus laut di antara keduanya yang berbeda dari kondisi normalnya.


Perubahan sirkulasi ini tentunya akan membawa dampak pada kondisi iklim di Indonesia.



Fakta 2 | Fenomena yang mirip ENSO 

Fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) disebut juga Indian Nino merujuk pada persamaan identifikasinya yaitu berdasarkan pada osilasi suhu muka laut.

Bedanya, jika ENSO didasarkan pada osilasi suhu muka laut di Samudera Pasifik, maka IOD diamati berdasarkan dinamika suhu muka laut di Samudera Hindia.

Persamaan lainnya adalah dinamika suhu muka laut tersebut juga membuat perubahan pada pola sirkulasi walker yang mengalir sepanjang kawasan ekuator di Samudera Hindia, sama seperti yang terjadi di Pasifik [2]. 




Fakta 3 |  Terbentuk sebagai interaksi atmosfer dan lautan

Ketika suhu muka laut menjadi lebih hangat, maka lautan yang hangat ini akan memanaskan atmosfer di atasnya [3]. Dampaknya, tekanan udara di atas lautan yang hangat tersebut menjadi lebih rendah. 

Maka akan terjadi aliran udara dari daerah bertekanan tinggi ke tekanan rendah. 


Dalam konteks IOD maka massa udara akan mengalir ke wilayah Indonesia jika suhu muka laut di perairan barat Indonesia lebih hangat. 

Sebaliknya massa udara akan berbalik ke arah pantai  timur Afrika jika suhu muka lautnya lebih hangat.



Fakta 4 | Memiliki tiga fase; Netral, Positif, dan Negatif

Sebagai bentuk kompensasi beda suhu muka laut antara pantai timur Afrika dan perairan barat Indonesia maka terbentuk tiga fase Indian Ocean Dipole sebagai berikut:


Fase Netral Indian Ocean Dipole

Pada fase netral sirkulasi walker di bagian dekat permukaan akan mengalir dari Samudera Hindia ke atas perairan Indonesia karena suhu muka lautnya sedikit lebih hangat. Hal ini tersaji pada gambar di bawah ini.

Ilustrasi fase netral "Indian Ocean Dipole" [4]


Pusat konvektif berada di atas wilayah benua maritim Indonesia yang membentuk hujan di kawasan tersebut hingga ke wilayah Australia [4].

IOD dalam fase netral jika selisih suhu muka laut antara timur dan barat Samudera Hindia tersebut berkisar -0.5 s.d +0.5 °C .



Fase Negatif Indian Ocean Dipole

Pada fase negatif, suhu muka laut di benua maritim Indonesi menjadi lebih hangat dari biasanya. Selisih suhu muka laut antara lautan di pantai timur Afrika dengan lautan di wilayah barat Indonesia akan lebih kecil dari -0.5 °C.

Konsekuensinya sirkulasi Walker baratan menjadi lebih kuat yang kemudian meningkatkan konvektif di atas Indonesia lebih besar dibanding saat fase netral di atas.

Ilustrasi fase negatif "Indian Ocean Dipole" [4]


Peningkatan sistem konvektif tentunya akan meningkatkan curah hujan yang terjadi di atas wilayah Indonesia, hingga juga Australia [4].



Fase Positif Indian Ocean Dipole

Pada fase IOD positif, sirkulasi baratan melemah yang memungkinkan kolam panas bergeser ke sebelah barat ke wilayah Afrika, seperti terlihat pada gambar berikut.

Ilustrasi fase positif "Indian Ocean Dipole" [4]


Hal ini akan diikuti dengan berpindahnya pusat konvektif ke wilayah Afrika. Pada saat ini akan terjadi peningkatan curah hujan di kawasan tersebut dan sebaliknya pengurangan curah hujan di kawasan timur Samudera Pasifik.



Fakta 5 | Memberi dampak kekeringan atau juga banjir

Sebagaimana terlihat pada tiga fase Indian Ocean Dipole di atas, pada fase negatif maka akan terjadi peningkatan curah hujan pada wilayah Indonesia [5] khususnya pada bagian barat.

Umumnya peningkatan curah hujan yang jauh di atas normalnya akan diikuti oleh terjadinya banjir pada wilayah tersebut. Hal yang sama juga terjadi di wilayah Australia[4].

Pada kejadian sebaliknya di mana Indian Ocean Dipole berada pada fase positif, peningkatan curah hujan di wilayah afrika yang memicu banjir di Kenya, pada "kutub" IOD lainnya di Indonesia justru terjadi kekeringan [5] [6].
Demikian 5 fakta singkat tentang fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang merupakan salah satu faktor pengendali iklim di Indonesia dan kawasan di sekitar Samudera Hindia.



Referensi

Ulasan tentang fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) ini bersumber dari:
  1. https://www.climate.gov/news-features/blogs/enso/meet-enso%E2%80%99s-neighbor-indian-ocean-dipole
  2. https://www.researchgate.net/publication/303405460_Anomalous_Walker_Circulations_associated_with_two_flavors_of_the_Indian_Ocean_Dipole_Two_flavors_of_IOD_Walker_circulation
  3. https://media.neliti.com/media/publications/101542-ID-none.pdf
  4. http://www.bom.gov.au/climate/iod/#tabs=Indian-Ocean-climate-drivers
  5. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1878029616002358
  6. https://ourworld.unu.edu/en/indonesia-drought-kenya-flooding

Related Posts:

Post a Comment

23 Comments

  1. Saya hanya bisa memahami point fakta nomor tiga dan nomor lima
    Selebihnya saya kurang begitu mencerna

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang mas. Ini gk akan keluar ujian semester hehe

      Delete
  2. keadaan sebegini akan beri impak pada pelayar / kapal-kapal yang melalui Lautan Hindi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada fase banyak hujan tentunya cuaca di lautan akan cukup berubah2 dengan cepat

      Delete
  3. ilmu ilmu ilmu semua.. alhamdulillah dapet pengetahuan baru

    ReplyDelete
  4. Konsep teori Monsoon dari Indian Ocean ini mengingatkan saya ke konsep dasar magnetic dipole, persis banget sifat dan karakter dasarnya.
    Makasih bang Day, jadi nambah ilmu tentang cuasa.

    ReplyDelete
  5. memang ya kl ngomongin perubahan iklim rasanya duh, berasa besok mau kiamat. eh astagfirullah. hhh
    ditempatku kl musim kemarau langganan kekeringan bang day, pun kl musim hujan bisa 3 hari hujan nggak berhenti2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di tempatku juga bgtu mba ella, apalagi di depan rumah bnyak kolam2 ikan. Klo sering hujan air nya bisa meluap

      Setelah baca artikel ini aku jadi paham, faktor2 diatas berpengaruh sekali pada iklim
      Meski hanya beberpa yg saya mengerti hehe

      Delete
  6. maen ke sini jadi agak paham ttg cuaca

    ReplyDelete
  7. Terima kasih ilmunya bang day, walau sebenarnya saya cuma bisa membayangkan. happy blogging

    ReplyDelete
  8. di kawasan lain seperti Laut Atlantik & Pasifik, juga berlaku keadaan sedemikian?

    ReplyDelete
  9. Ini otakku yang salah kali ya, kok saia ndak paham aowkowkowkow.
    Btw, ini naise info sebenernya. Keknya kudu sering-sering ke sini biar lebih paham ahahaha :D.

    ReplyDelete
  10. Gambar-gambar ilustrasi di atas membuktikan bumi itu datar....
    *ditampol Bang Day*

    ReplyDelete
  11. Kalau banjir rob itu faktor apa ya bang? Sekolah ponakan saya sering diliburkan gara2 banjir rob. Lokasinya emang rendah n deket pantai gitu sih.

    ReplyDelete
  12. Indian Ocean Dipole, malah keinget anime Naruto atau Avatar. Di sana kan ada pengendali air, udara, dll. Haha...

    Terus, gimana caranya biar bisa mendapatkan iklim yang bagus tanpa mengalami kekeringan yang luar biasa kayak gitu Kak?

    ReplyDelete
  13. Kalau pas kejadian fenomena ini apakah berbahaya untuk kapal ya?

    ReplyDelete
  14. Damn, kalau main ke blog ini kadang suka ngerasa banyak ngabisin waktu saya. Lha wong niatnya mau silaturahmi sambil ninggalin komen malah jadi penasaran sama topik2 yang dikasih bang day. Kayak ini nih, ujung2nya saya malah jadi nonton Youtube ttg IOD. kekeke.

    Btw baru ngeh ternyata dampaknya gede juga y. Kirain cuma di sumatera aja yang berbatasan sama samudra Hindia, ternyata sampai ke ujung timur Australia juga y. Cuma penasaran aja kenapa anginnya bisa muter2 di samudra hindia aja y? kenapa gak lari ke utara ke daerah yang lebih dingin? atau angin laut memang mainnya sama angin laut aja? Tuh kan, saya malah jadi tambah penasaran!

    ReplyDelete
  15. Betapa jelas bahwa dampak perubahan iklim itu antar negara kalau nggak bahkan internasional. Makanya harus ada pengamatan iklim yang terus menerus dan ada pertukaran informasi yang sifatnya global ya.

    ReplyDelete
  16. sangat detail fakta nie...boleh dijadikan sumber rujukan untuk mereka yang memerlukan

    ReplyDelete
  17. oh ya... hal ini ada kaitan dengan tsunami 2004 tak?

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon tidak meletakkan link hidup yah.