Konsep Kesesuaian Iklim untuk tanaman

Climate4life - Konsep Kesesuaian Iklim untuk tanaman merupakan aplikasi dari hal-hal yang berkaitan dengan cuaca dan iklim. Kali ini kita akan membahas Konsep Pemetaan Kesesuaian Iklim untuk tanaman. Kita mulai dengan bagaimana iklim mempengaruhi tanaman.

Bagaimana iklim mempengaruhi tanaman.

Untuk membahas bagaimana unsur-unsur iklim mempengaruhi tanaman kita mulai dulu dengan merefresh pengertian iklim. Iklim merupakan statistik dari kondisi cuaca (Prawirowardoyo, 1996) sehingga unsur-unsur iklim merupakan unsur-unsur cuaca pula. Unsur-unsur cuaca sendiri merupakan pernyataan atau pengukuran kondisi fisis atmosfer (Tjasyono, 1992). Menurut Aguado dan Burt (2001) iklim juga lebih dari sekedar nilai rata-rata atau statistik cuaca, namun juga merupakan variabilitas unsur-unsur iklim itu sendiri. Sebagai contoh apabila dua tempat, walaupun mempunyai curah hujan tahunan yang sama tetapi apabila variasi curah hujan bulanannya berbeda, maka iklim kedua tempat tersebut dinyatakan berbeda.

Iklim mempengaruhi sebaran tanaman sehingga beberapa klasifikasi iklim didasarkan pada dunia tumbuh-tumbuhan (Tjasyono, 1992) dan sebaliknya tanaman dapat pula mempengaruhi iklim. Hubungan yang kompleks antara iklim, tanaman dan faktor tanah sebagaimana terlihat pada gambar di bawah ini.


Gambar 1. Hubungan antara Iklim, Tanah dan Tanaman

Beberapa unsur iklim yang signifikan mempengaruhi tanaman antara lain :

1. Hujan
Hujan merupakan salah satu bentuk presipitasi, yaitu jatuhan hydrometeor yang sampai ke bumi dalam bentuk cair. Bentuk presipitasi lainnya ialah salju dan es. Di wilayah tropis seperti Indonesia presipitasi lebih dikenal sebagai hujan karena sangat jarang terjadi presipitasi dalam bentuk jatuhan keping es.

Hujan memegang peranan penting pertumbuhan dan produksi tanaman pangan. Hal ini disebabkan air sebagai pengangkut unsur hara dari tanah ke akar dan dilanjutkan ke bagian-bagian lainnya. Fotosintesis akan menurun apabila 30% kandungan air dalam daun hilang, kemudian proses fotosintesis akan berhenti apabila kehilangan air mencapai 60% (Griffiths, 1976 dalam Kartasapoetra, 1993). Pertanian dapat dilaksanakan pada daerah-daerah yang mendapat curah hujan tahunan lebih dari 450 mm (Sosrodarsono dan Takeda, 2003). Apabila curah hujan kurang dari 300 mm maka pertanian hanya mungkin dilakukan dengan bantuan pengairan dari sungai.

Curah hujan menyatakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan 1 (satu) milimeter berarti bahwa pada luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu milimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

Prawirowardoyo (1996) menyebutkan bahwa curah hujan merupakan salah satu unsur iklim yang paling sering digunakan dalam klasifikasi iklim di suatu tempat. Hal ini karena curah hujan merupakan faktor penentu sekaligus faktor pembatas pada kegiatan pertanian. Oleh karena itu klasifikasi iklim di Indonesia dan juga di wilayah Asia Tenggara lainnya menggunakan curah hujan sebagai kriteria utama (Lakitan, 2002). 


2. Radiasi Matahari
Radiasi matahari berperan pada proses fotosintesis yang menjadi bahan utama dalam pertumbuhan dan produksi tanaman pangan serta mempercepat proses pembungaan dan pembuahan (Kartasapoetra,1993). Tanaman menggunakan klorofil untuk menangkap, menyerap dan mengubah energi cahaya surya PAR pada spektrum 0.38 -0.74 mikron menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis. Dalam proses ini CO2 dari atmosfer dan H2O dari perakaran diubah menjadi glukosa, yaitu karbohidrat sederhana (C6H12O6) dan O2 dilepas ke atmosfer. 

Melalui proses metabolisme di dalam sel tanaman, C6H12O6 diproses menjadi berbagai bahan karbohidrat (CH2O)n yang molekulnya lebih besar dengan kandungan energi kimia lebih tinggi. Bahan-bahan tersebut disimpan di berbagai organ seperti daun, batang, akar, umbi, biji, seluruh jaringan dan sistem organ lainnya.


3. Suhu Udara
Kartasapoetra (1993), menyebutkan bahwa suhu udara berperan hampir pada semua proses pertumbuhan. Setiap jenis tanaman mempunyai batas suhu minimum, optimum dan maksimum yang berbeda-beda untuk setiap tingkat pertumbuhannya. Suhu optimum ialah suhu di mana tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan maksimal. Suhu paling rendah yang masih memungkinkan suatu tumbuhan untuk tumbuh disebut suhu minimum sedangkan suhu tertinggi yang masih memungkinkan tumbuhan untuk tumbuh disebut suhu maksimum.

Suhu udara merupakan faktor dalam menentukan tempat dan waktu penanaman yang cocok, bahkan suhu udara dapat juga sebagai faktor penentu dari pusat-pusat produksi tanaman, misalnya kentang di daerah bersuhu rendah sebaliknya padi di daerah bersuhu tinggi.


4. Kecepatan Angin
Angin secara tidak langsung mempunyai efek penting pada produksi tanaman pangan. Energi angin merupakan perantara dalam penyebaran tepung sari pada penyerbukan alamiah, tetapi angin juga dapat menyebarkan benih rumput liar dan melakukan penyerbukan silang yang tidak diinginkan. Angin yang terlalu kencang juga akan menggangu penyerbukan oleh serangga (Kartasapoetra, 1993).

Angin didefinisikan sebagai gerak udara nisbi terhadap permukaan bumi pada arah horzontal (Prawirowardoyo, 1996). Gaya penggerak angin yang terjadi karena perbedaan tekanan antara dua tempat atau disebut juga gaya gradien tekanan.


5. Kelembapan Udara
Kelembapan menyatakan jumlah uap air di udara. Fenomena cuaca seperti hujan, salju ataupun hujan es dihasilkan oleh adanya air dalam atmosfer (Neiburger et al, 1995). Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan dimana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel yang lebih cepat.


Konsep Kesesuaian Iklim untuk tanaman

1. Kesesuaian Iklim
Kesesuaian iklim terhadap suatu tanaman disusun berdasarkan syarat-syarat iklim yang diperlukan oleh suatu tanaman untuk dapat tumbuh di mana setiap tanaman memiliki syarat kondisi iklim yang berbeda-beda. Menurut Mather (1986) dalam Ishak (2008) penyesuaian lokasi pengembangan pertanian dengan cuaca dan iklim dikarenakan sebagian besar kegiatan pertanian dilakukan di lahan terbuka. Jumlah dan sebaran curah hujan sepanjang tahun serta suhu udara menentukan jenis tanaman yang dapat ditanam di suatu tempat secara ekonomis. 


2. Klasifikasi kesesuaian iklim
Klasifikasi kesesuaian iklim berdasarkan klasifikasi kesesuaian lahan menurut FAO (1976) dalam Ritung et al (2007) ialah sebagai berikut :

  • Kelas S1 : sangat sesuai, lahan tidak mempunyai faktor pembatas yang berarti atau nyata terhadap penggunaan secara berkelanjutan, atau faktor pembatas bersifat minor dan tidak akan berpengaruh terhadap produktivitas lahan secara nyata. 
  • Kelas S2 : cukup sesuai, lahan mempunyai faktor pembatas, dan faktor pembatas ini akan berpengaruh terhadap produktivitasnya, memerlukan tambahan masukan (input). Pembatas tersebut biasanya dapat diatasi oleh petani sendiri. 
  • Kelas S3 : sesuai marginal, lahan mempunyai faktor pembatas yang berat, dan faktor pembatas ini akan sangat berpengaruh terhadap produktivitasnya, memerlukan tambahan masukan yang lebih banyak daripada lahan yang tergolong S2. Untuk mengatasi faktor pembatas pada S3 memerlukan modal tinggi, sehingga perlu adanya bantuan atau campur tangan (intervensi) pemerintah atau pihak swasta. 
  • Kelas N: Lahan yang tidak sesuai karena mempunyai faktor pembatas yang sangat berat dan/atau sulit diatasi. 

Persyaratan tumbuh beberapa jenis tanaman sebagaimana tersaji pada gambar di bawah ini.


Gambar 2. Tabel Syarat Kesesuaian Iklim Beberapa Tanaman; Sumber : http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/tamp_komoditas.php

Dalam menyusun kesesuaian iklim terhadap tanaman jika terdapat beberapa kelas kesesuaian iklim terhadap 1 jenis tanaman maka ditetapkan berdasarkan kelas terendah. Contoh sebagai berikut : Misalnya kita ingin menanam jagung di suatu lokasi, berdasarkan pengolahan data iklimnya diperoleh hasil sebagai berikut : 
  • Suhu udara = 25 〬C ⇒Kesesuaian = S1 
  • Kelembapan = 85 % ⇒Kesesuaian = S1 
  • Curah hujan = 350mm ⇒Kesesuaian = S3 
Berdasarkan data di atas, meskipun dari faktor suhu udara dan kelembapan berada pada kelas S1 namun karena curah hujan hanya pada kelas S3 maka lokasi tersebut dianggap hanya memiliki kesesuaian pada kelas S3 atau lahan tersebut mempunyai faktor pembatas yang berat. Faktor pembatas ini akan sangat berpengaruh terhadap produktivitasnya, memerlukan tambahan masukan yang lebih banyak daripada lahan yang tergolong S2. Untuk mengatasi faktor pembatas pada S3 memerlukan modal tinggi, sehingga perlu adanya bantuan atau campur tangan.



REFERENSI :
Ritung, Sofyan., A. Wahyunto., Fahmudin dan H. Hidayat. 2007. Panduan Evaluasi Kesesuaian Lahan. Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre. Bogor. 
Ishak, M. 2008. Makalah Penentuan Pemanfaatan Lahan. Jurusan Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjajaran. Bandung. 

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to " Konsep Kesesuaian Iklim untuk tanaman "

Terima kasih