Mengenal satelit cuaca Himawari-8

Mengenal satelit cuaca HimawariClimate4life.info - Artikel kali ini adalah tentang satelit cuaca Himawari-8, yang produknya banyak digunakan dalam analisis cuaca. Salah satu produk satelit cuaca Himawari-8 adalah pola perawanan pada laman citra satelit terkini. Selain pola perawanan, produk satelit cuaca Himawari digunakan juga antara lain untuk menghasilkan citra sebaran asap pada kebakaran hutan dan lahan.

Satelit Himawari-8 merupakan sebuah satelit cuaca yang dimiliki oleh Jepang dan datanya didistribusika ke negara-negara lain, sebagai bagian kegiatan Global Observing System WMO.

Tentang WMO, selengkapnya pada :
Sejarah World Meteorological Organization (WMO) - Organisasi Meteorologi Dunia 

Produk satelit cuaca Himawari-8 digunakan juga untuk mendukung peta estimasi sebaran curah hujan GSMaP seperti pada gambar berikut.

http://www.climate4life.info/2018/07/citra-sebaran-curah-hujan-berdasarkan-gsmap.html
Estimasi sebaran curah hujan GSMaP
Cek di sini Akses Citra Sebaran Curah Hujan berdasarkan Estimasi GSMaP

Satelit Cuaca

Menurut Wikipedia, satelit cuaca/meteorologi merupakan satelit buatan yang ditujukan secara khusus untuk memantau keadaan cuaca dan iklim bumi. Satelit cuaca/meteorologi secara umum menghasilkan citra awan dan sistem perawanan. Cahaya malam hari pada pemukiman atau perkotaan, kebakaran hutan dan lahan, polusi udara, cahaya aurora, badai pasir dan debu, tumpukan salju, pemetaan es, gelombang samudra, pembuangan energi, dll juga merupakan informasi yang dikumpulkan oleh satelit cuaca.

Satelit cuaca terdiri dari dua jenis yaitu satelit geostasioner dan satelit polar. Satelit geostasioner beroperasi pada orbit bumi dengan posisi yang tetap pada ketinggian sekitar 36.000 km. Area cakupannya lebih luas namun resolusinya lebih kasar. Adapun satelit polar adalah satelit yang beroperasi dengan bergerak melintasi bumi pada lintasan utara-selatan yang sejajar dengan garis lintang bumi dengan ketinggian sekitar 6.000 km. Cakupan wilayahnya lebih kecil namun resolusi spasialnya lebih tinggi dibanding citra yang dihasilkan oleh statelit geostasioner.

WMO [1] menempatkan satelit cuaca sebagai bagian program Global Observing System (GOS) WMO. Skema GOS seperti tersaji pada gambar di bawah ini.

satelit cuaca dalam global observing wmo
satelit cuaca dalam global observing WMO [1]

WMO melalui GOS berusaha menyediakan hasil observasi keadaan atmosfer dan lautan pada bumi hingga luar angkasa untuk digunakan dalam analisis cuaca, prakiraan, himbauan, peringatan dini hingga pemantauan kondisi iklim dan lingkungan. Kegiatan tersebut dilakukan bersama lembaga internasional lainnya. Dengan GOS, diharapkan dapat meningkatkan akurasi prakiraan dan kehandalan peringatan dini cuaca dan iklim serta juga keadaan lingkungan di seluruh dunia.

Mengenal satelit cuaca Himawari-8

Satelit Himawari-8 adalah sebuah satelit cuaca yang dioperasikan oleh JMA- Badan Meteorologi Jepang[2] . Himawari merupakan Geostasioner Meteorologi Satelit (GMS) yang merupakan generasi baru dari satelit MTSAT ( Multi Fungsi Transportasi Satelit). Himawari-8 diluncurkan pada Oktober 2014 dan mulai beroperasi pada pertengahan 2015. Posisi Himawari berada pada 140° BT untuk memantau kawasan bagian timur Asia dan barat Pasifik.

Satelit Himawari dilengkapi sensor bernama Advanced Himawari Imager (AHI), yang memiliki resolusi temporal, spektral dan spasialnya lebih baik dibandingkan seri sebelumnya. Kanal yang dimiliki Satelit Himawari-8 adalah 16 kanal yang terdiri dari 3 kanal visibel, 3 kanal infra merah-dekat atau near infrared (NIR) dan 10 kanal Infrared (IR).

sistem transmisi dan pengolahan produk satelit cuaca Himawari-8
Proses sistem transmisi dan pengolahan produk satelit cuaca Himawari-8 [2]

Satelit Himawari memiliki resolusi spasial 0.5 km dan 1 km untuk kanal cahaya tampak (visible), 2 km untuk data kanal IR serta 1 km dan 2 km untuk data kanal NIR. Adapun resolusi temporal, Himawari 8 memiliki resolusi tiap 10 menit untuk pengamatan global dan 2,5 menit sekali untuk pengamatan khusus. 

Kelebihan lain Satelit Himawari-8 dengan kanalnya yang sangat banyak, maka kita dapat memanfaatkannya untuk membuat produk RGB (red greenlue) dengan mengkombinasikan beberapa kanal dari beberapa kanal yang ada tersebut [3].

Pada laman JMA, disebutkan bahwa Satelit Himawari-8 baik satelit maupun stasiun buminya dioperasikan oleh sebuah perusahaan bernama HOPE (Himawari Operation Enterprise Corporation) yang kemudian mentransmisikan datanya ke JMA. Data yang diterima diproses oleh Meteorological Satellite Center (MSC), sebuah unit kerja milik JMA yang memang bertugas untuk mengamati meteorologi dan fenomena terkait lainnya berdasarkan data satelit. 

Sistem komputer pada MSC akan mengolah data hasil observasi satelit Himawari-8 dan satelit NOAA serta data NWP, yang digunakan untuk berbagai tujuan seperti untuk memantau suhu muka laut atau untuk mendeteksi karakateristik aliran atmosfer. Semua data tersebut didistribusikan kepada kantor-kantor meteorologi negara lain yang berkepentingan. 

MSC secara rutin menerima data primer dan sekunder dari stasiun bumi untuk diproses dan menggunakan hasil prosesing tersebut untuk membuat standar data Himawari, file-file HRIT dan DCP yang telah diedit untuk pengguna khusus. Pada kondisi di mana terjadi gangguan pada sistem MSC karena tidak berfungsinya sistem-sistem yang ada atau karena bencana alam maka data dan produks tertentu dapat disediakan oleh Osaka Regional Headquarters.


Produk satelit cuaca Himawari-8

Hasil observasi satelit cuaca Himawari-8 melalui proses komputer diolah lebih lanjut untuk menghasilkan produk untuk mendukung prediksi cuaca dan lainnya. Produk utama Himawari sebagai mana terlihat pada gambar berikut.

Produk utama satelit cuaca Himawari
Produk utama satelit cuaca Himawari
  • Atmospheric Motion Vector (AMV) - Vektor Gerak Atmosfer, diperoleh melalui rekaman jejak lintasan awan tunggal atau pola uap air dalam citra satelit yang berurutan. Vektor gerak atomsfer ini sangat membantu untuk mendukung prediksi cuaca secara numeris utamanya di lautan di mana jarang terdapat kegiatan pengamatan cuaca.
  • Clear Sky Radiance (CSR), diperoleh menggunakan AHI, dengan perhitungan berdasarkan data infra merah  dari setiap kotak 16 x 16 pixel .
  • High-resolution Cloud Analysis Information (HCAI), tersedia dalam lima unsur yaitu tutupan awan termasuk tutupan debu, tutupan salju dan es, ketinggian puncak awan, jenis awan serta informasi pengecekan kualitas.
  • Aerosol Optical Thickness, merupakan informasi optik aerosol dengan ketebalan 500 nm dan index Angstrom di atas lautan saat siang hari dan ketebalan optik aerosol di atas daratan.

Demikian artikel Mengenal satelit cuaca Himawari-8, semoga bermanfaat.

REFERENSI :
[3] Bony Septian Pandjaitan dan Andersen Panjaitan - Pemanfaatan Data Satelit Cuaca Generasi Baru Himawari 8 Untuk Mendeteksi Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Indonesia 

Subscribe to receive free email updates:

11 Responses to " Mengenal satelit cuaca Himawari-8 "

  1. semakin hari semakin top nih edukasinya....terasa balik lagi ke suasana sekolah

    BalasHapus
  2. sangat informatif.
    thank you for sharing

    BalasHapus
  3. Himawari kayak nama adiknya Sinchan ya, hehehe. Apa Indonesia untuk prakiraan cuacanya dapat data dari Himawari juga?
    Infonya bermanfaat, kebetulan saya ada materi tentang satelit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... bisa aja
      Himawari hanya salah satu data dukung. KIta pnya jaringa radar sendiri yang bisa memberi informasi cuaca ekstrem.

      Hapus
  4. wah, menarik. sangat membantu sekali ya :)

    BalasHapus
  5. Pas baca judul kenapa saya malah kebayang adiknya Shinchan ya..hihi. Himawari..
    makasih infonya mas, sangat informatif

    BalasHapus
  6. He sesuai dengan perkiraan saya, satelit ini pasti punya negara jepang. Ulasan yang menarik terima kasih bang day

    BalasHapus

Terima kasih