Udara gerah pertanda hujan, benarkah ?

Sobat peduli Alam dan Kehidupan

Sering dalam keseharian kita mendengar ungkapan "wah kok gerah yah... bentar lagi bakal hujan nih". Perasaan dimana udara tiba-tiba terasa gerah ini  bisa terjadi siang ataupun malam yang kemudian dijadikan penduga bahwa akan terjadi hujan. Benarkah demikian ?

Mari kita mulai dengan kesetimbangan energi di bumi.

Gambar 1. Kesetimbangan energi bumi-atmosfer
(Sumber : Ahrens, Essential of Meteorologi)

Gambar 1 menunjukan sumber energi panas di bumi bersumber dari radiasi gelombang pendek sinar matahari. Tidak semua panas dari matahari sampai di bumi. Sebagian hilang diserap ataupun dipantulkan kembali oleh gas-gas, uap air dan awan di atmosfer bumi. Panas yang sampai ke permukaan bumi ada yg dipantulkan dan adapula yang diserap yang kemudian perlahan memanaskan permukaan bumi. Saat permukaan bumi menjadi lebih panas dari udara di atasnya, permukaan bumi akan mengemisikan panasnya melalui radiasi gelombang panjang ke atmosfer yang sebagian  radiasi gelommbang panjang tersebut kemudian akan memanaskan atmosfer dan juga  sebagian lainnya hilang ke angkasa. Fluks radiasi bumi dapat dinyatakan dengan

 dimana :
   = keterpancaran inframerah permukaan bumi
  = konstanta Stefan-Boltzman

Nah jika pada hari cerah radiasi gelombang panjang dari bumi bisa langsung hilang ke atmosfer, pada saat mulai banyak awan maka radiasi tersebut akan dipantulkan oleh awan kembali ke bumi. Dampaknya radiasi pantul dari awan tersebut akan memanaskan atmosfer yang kemudian kita akan merasakan peningkatan suhu udara.

Selanjutnya dalam meteorologi ada yang dikenal dengan panas laten.

Kita mulai dengan proses dasar, penguapan dan kondensasi. Penguapan adalah proses perubahan air dari fasa cair ke fasa gas. Pada proses ini, panas yang dibutuhkan diambil dari lingkungan. Penguapan adalah proses utama masuknya uap air ke atmosfer.
Tentang perilaku uap air di atmosfer dapat dibaca di sini


Gambar 2. Proses penguapan versus kondensasi

Kondensasi atau pengembunan adalah proses kebalikan dari penguapan, dimana yang terjadi adalah perubahan air fasa gas ke fasa cair. Pada proses ini terjadi pelepasan panas dari sistem  ke lingkungan. Panas yang terlepas dari proses kondensasi inilah yang disebut panas laten.

Panas laten menyatakan banyaknya energi yang diperlukan untuk merubah sejumlah massa zat satu fasa ke fasa yang lain pada suhu dan tekanan tertentu. Panas laten penguapan dapat diartikan adalah energi yang diperlukan untuk merubah sejumlah air dari fasa cair ke fasa gas pada suhu dan tekanan tertentu. Sebaliknya pada panas laten saat kondensasi adalah banyaknya energi yang dilepaskan sejumlah massa uap air ketika berubah fasa dari gas ke cair pada suhu dan tekanan tertentu. Secara matematika panas laten dapat di tuliskan sebagai berikut :


dimana := panas laten dan = perubaha kalor/energi
Status 1 adalah keadaan air dalam fasa cair atau padat dan status 2 adalah keadaan air dalam fasa uap. Dalam proses penguapan pada suhu 0  akan membutuhkan energi sebesar 2,5 x  . Maka dalam hal proses kondensasi pada suhu yang akan ada pelepasan panas ke atmosfer dengan besar yang sama dengan pada saat proses penguapan.

Panas laten yang dilepaskan sebesar  2,5 x   inilah yang kemudian akan memanaskan atmosfer di bawah awan yang melalui radiasi gelombang panjang yang kemudian ikut memanaskan udara dipermukaan bumi. Dampaknya kita kemudian merasa gerah.

Jadi pada saat udara cerah kemudian awan tumbuh kita akan merasa lebih panas karena :
1. Radiasi gelombang panjang dari bumi yang dipantulkan kembali oleh dasar awan.
2. Adanya panas laten yang dilepaskan saat uap air mengembun menjadi titik air yang kemudian menjadi awan.

Jika proses pembentukan awan terus berlangsung maka pada saat tertentu maka titik air dari awan akan jatuh ke bumi sebagai hujan. Dengan ini gerah yang kita rasakan bisa jadi petunjuk akan terjadi hujan. Namun jika ada faktor lain diluar faktor mikrofisis awan tersebut seperti adanya angin berhembus kencang bisa jadi formasi awan menjadi punah dan hujan tidak terjadi.

Demikian artikel udara gerah pertanda hujan. Semoga bermanfaat

Subscribe to receive free email updates:

18 Responses to " Udara gerah pertanda hujan, benarkah ? "

  1. Sebagian mitos orang tua terdahulu begitu ya kan Bang day..hee

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan bisa diterangkan secara ilmiah hehe

      Hapus
  2. Saya jadi ingat sama kata2 orang tu..haha

    BalasHapus
  3. berarti bener ya kalo gerah itu bisa pertanda bakalan hujan bukan cuma mitos belaka :) tapi kadang kalo abis hujan terus panas biasanya bikin gerah tuh, apa itu karena air yang menguap terkena panas matahari ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya secara ilmiah demikian untuk proses mikrofisis. Namun bisa jadi prosesnya terganggu jika ada faktor lain yang menggaggu seperti misalnya angin yang tiba2 bertiup kencang

      Hapus
  4. kalo mau hujan jadi gerah mungkin harus segera masuk rumah taukut ujan gede :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo Bogor mah gak pake gerah :)

      Hapus
  5. Oh berarti kalau gerah tapi tidak jadi hujan, ada faktor2 laim di luar faktor mikrofisis, ya? *manggut-manggut*
    Terima kasih informasinya, Bang Day :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang lebih demikian mba, karna atmosfer memang merupakan sistem yang kompleks. Terima kasih sudah meninggalkan jejak

      Hapus
  6. ooh pantesan, ini toh alasannya.. kirain krn awannya lembab :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. lembab kemudian mengirim panas :)

      Hapus
  7. jadi ingat dosen pas jaman kuliah dulu pak. bedanya kali ini bapak yang bicara hahaha. nice share btw. keep on posting, sire

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya pengen jadi dosen sebenarnya :)
      Tx Stiv

      Hapus
  8. Wah iya, ini mitos orang tua zaman dulu, ternyata empiris ya dan ini landasan ilmiahnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama kayak mitos gak bole motong kuku malam2, ada landasan ilmiahnya juga

      Hapus

Terima kasih