Jeda hujan selama Juli 2018 muncul total 3875 hotspot indikator kebakaran hutan dan lahan

Climate4life.info - Selama Juli 2018 terjadi jeda hujan sekitar 11-30 pada beberapa provinsi di Indonesia [1]. Jeda hujan atau ketiadaan hujan tersebut diikuti oleh kemunculan hotspot yang merupakan indikator kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sebagaimana tersaji pada peta sebaran hotspot dari LAPAN [2] di bawah ini.

peta sebaran hotspot karhutla
Gambar 1. Peta sebaran total hotspot 1-26 Juli 2018, diakses pukul 10.20 WIB
Gambar 1 di atas menunjukkan total akumulasi hotspot indikator kebakaran hutan dan lahan dengan tingkat kepercayaan 0-100% yang terjadi pada 1-26 Juli 2018. Sebaran hotspot di atas dapat juga diakses melalui handphone (baca : Cara mengakses Informasi Hotspot - Indikator Kebakaran Hutan dan Lahan melalui handphone). Kemunculan hotspot harian selama 1-26 Juli 2018, dapat diamati pada grafik di bawah ini.

grafik hotspot harian
Gambar 2. Grafik jumlah hotspot perhari selama Juli 2018 (diolah dari data Lapan)
Grafik pada gambar 2 menjelaskan tren peningkatan jumlah hotspot setiap hari sejak tanggal 1 hingga 26 Juli. Hal ini dapat dikaitkan dengan peningkatan panjang jeda hujan atau  Hari Tanpa Hujan (HTH) selama Juli 2018 dengan penjelasan pada bagian akhir artikel ini.

Hotspot menjadi indikator kebakaran hutan sesuai Permenhut No. P 12/ PMenhut-II/ 2009. Merujuk pada laman Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) disebutkan bahwa hotspot adalah suatu area tertentu yang suhunya relatif lebih tinggi daripada suhu di sekitarnya. Perbedaan suhu tersebut dideteksi dengan satelit dan posisi area tersebut direpresentasikan dalam suatu titik dengan koordinat lintang dan bujur tertentu.

Warna hotspot pada Gambar 1 di atas menggambarkan tingkat kepercayaan dengan penjelasan berikut : 

  • Merah; tingkat kepercayaan >=80%, segera kegiatan penanggulangan;
  • Kuning; tingkat kepercayaan antara 30% sampai dengan <80%, waspada;
  • Hijau; tingkat kepercayaan <30 %, perlu diperhatikan.

Hotspot indikator kebakaran hutan dan lahan pada Gambar 1 di atas terjadi hampir di semua provinsi di Indonesia. Jika dirinci berdasarkan tingkat kepercayaan, pada tingkat kepercayaan >=80% hotspot terbanyak terjadi di Kalimantan Barat diikuti oleh Nusa Tenggara Timur dan Riau, yang dapat diamati pada grafik di bawah ini.

Gambar 3. Grafik sebaran total hotspot 1-26 Juli 2018 (diolah dari data Lapan)

Adapun sebaran spasial hotspot dengan tingkat kepercayaan >=80% sebagaimana tersaji pada gambar berikut.

peta sebaran hotspot karhutla
Gambar 4. Peta sebaran total hotspot  dengan tingkat kepercayan >80%, 1-26 Juli 2018,
diakses pukul 10.20 WIB


Beberapa hal yang harus kita catat dalam interpretasi hotspot menurut Lapan adalah sebagai berikut :
  • Tolerasi koordinat hotspot dari satelit mencapai 2 km. Jadi saat kita ingin mencari keberadaan suatu titik hotspot di lapangan maka area yang harus kita susur bisa mencapai 2 km.
  • Jumlah hotspot bukanlah merupakan jumlah kebakaran di lapangan karena beberapa kejadian kebakaran dalam radius 500 m  dapat saja terdeteksi sebagai satu hotspot. Atau sebaliknya satu kebakaran kecil namun suhunya sangat tinggi dapat dideteksi oleh satelit lebih dari satu hotspot.
  • Jumlah hotspot tidak mencerminkan luas area kebakaran.


Kaitan jeda hujan atau Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kemunculan hotspot kebakaran hutan dan lahan

Variabilitas iklim di Indonesia menyebabkan dampak tertentu. Pada saat curah hujan tinggi maka ancaman genangan air dan banjir muncul dan sebaliknya pada saat hujan menghilang maka ancaman kekeringan meningkat. Kekeringan akan diikuti dampak susulan seperti berkurangnya sumber air untuk konsumsi hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan. Kaitan Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kemunculan hotspot kebakaran hutan dan lahan telah di bahas oleh Dyni Frina Meisda dkk [3] di mana menurutnya kejadian maksimum munculnya hotspot sejalan dan maksimum terjadinya HTH, yang terjadi pada saat musim kemarau

Merujuk pada Dyni Frina Meisda dkk [3] tersebut, munculnya akumulasi 3875 hotspot indikator kebakaran hutan dan lahan selama Juli 2016 maka dapat disandingkan dengan terjadinya HTH seperti pada gambar berikut.
peta hari tanpa hujan (HTH) BMKG
Gambar 5. Peta Hari Tanpa Hujan update 21 Juli [1]

Sebagaimana tersaji pada Gambar 4 di atas, beberapa provinsi mengalami kejadian HTH menvai 21-30 yang umumnya terjadi di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Bahkan beberapa tempat HTH mencapai >60 hari.  Di Kalimantan HTH berkisar 11-20. Demikin juga di Sulawesi khususnya bagian Selatan. Untuk Sumatera, bagian selatan umumnya mengalami HTH 6-10 hari dan 11-20 hari. Adapun bagian utara umumnya masih mengalami hujan sampai dengan tanggal updating. Kondisi ini dapat kita sesuaikan dengan Citra Sebaran Curah Hujan berdasarkan Estimasi GSMaP, sebagaimana terlihat di bawah ini.
estimasi curah hujan gsmap
Gambar 6. Estimasi curah hujan rata-rata perjam selama Juli 2018.
Gambar 6 menunjukkan secara umum selama Juli 2018 sebagian besar wilayah di Indonesia tidak mengalami hujan yang ditandai oleh warna putih. Wilayah yang masih mengalami hujan hanya pada sebagian kecil Papua dan Papua Barat.

Demikian ulasan mengenai Jeda hujan yang terjadi selama Juli 2018 yang mengakibatkan munculnya total 3875 hotspot indikator kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Semoga bermanfaat.


REFERENSI :
[1] BMKG - Peta HTH update 21 Juli 2018
[2] LAPAN - modis-catalog.lapan.go.id/monitoring/hotspot/index
[3] Dyni Frina Meisda, Widada Sulistya, Dede Tarmana. Pemanfaatan Peta Hari Tanpa Hujan Guna Deteksi Dini Kebakaran Hutan Di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.



Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to " Jeda hujan selama Juli 2018 muncul total 3875 hotspot indikator kebakaran hutan dan lahan "

  1. Di Bojong Gede menanti hujan nih mas, hujannya kadang-kadang, seperti hanya ingin memberi minum pohon

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya peluang hujan masih kecil mba

      Hapus

Terima kasih