Gelombang panas di Korea Selatan, begini penyebabnya

Climate4life.info - Cuaca ekstrem berupa gelombang panas atau heatwave dilaporkan sedang melanda beberapa negara seperti Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan. Adapun gelombang panas yang melanda Korea Selatan disebut menyebabkan suhu udara mencapai kondisi terpanas sejak satu abad terakhir. Gelombang panas tersebut bahkan telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa. WMO [1] menyebutkan serangan gelombang panas merupakan bencana alam yang paling berbahaya namun minim perhatian, berbeda dengan bencana alam yang disebabkan oleh siklon tropis. Padahal gelombang panas di Eropa saja telah menyebabkan kematian ratusan hingga ribuan orang.

Gelombang panas di Korea Selatan
Gambar 1. Berita mengenai gelombang panas yang melanda Korea Selatan

Sebagai perbandingan suhu maksimum absolut yang terjadi di Tiongkok, Jepang, Korea Selatan dan Indonesia dapat diamati pada grafik di bawah ini.

suhu maksimum absolut saat gelombang panas
Gambar 2. Grafik suhu maksimum absolut

Selama bulan Juli, suhu maksimum absolut yang terjadi di Tangerang - Indonesia hanya mencapai 33,2 °C. Bandingkan dengan yang terjadi pada Seoul, Beijing dan Tokyo yang mencapai 36 °C  dan 37 °C. Kota Seoul menjadi kota yang memiliki suhu maksimum absolut paling tinggi yaitu mencapai 37.7 °C.

Umumnya di Seoul pada setiap bulan Juli suhu udara normalnya adalah 24 °C, normal suhu maksimum 27 °C dan normal suhu minimum adalah 20  °C (sumber di sini). Gelombang panas yang terjadi di Korea Selatan mulai terpantau sejak pertengahan Juli 2018, di mana suhu maksimum sejak tanggal 13 Juli 2018 sudah melewati angka 30 °C. Suhu panas terus berlanjut sehingga menaikkan suhu rata-rata harian sejak 21 Juli 2018 menjadi di atas 30 °C dan suhu maksimum mencapai lebih dari 34 °C. Hal ini tersaji pada grafik di bawah ini.

grafik suhu udara akibat gelombang panas
Gambar 3. Grafik suhu harian di Seoul pada Juli 2018
Dapat diamati pada Gambar 3, memasuki pertengahan Juli 2018 suhu udara di Seoul telah berada jauh di atas normalnya, baik minimum, rata-rata harian hingga maksimumnya.


Heatwave atau gelombang panas

Merujuk pada WMO [2], heatwave atau gelombang panas adalah cuaca panas yang tidak biasanya baik diukur berdasarkan suhu maksimum, minimum atau rata-rata hariannya pada satu wilayah yang terjadi selama minimal dua hari berturut-turut.  Suhu panas tersebut merupakan periode panas dalam tahun tersebut berdasarkan kondisi klimatologi setempat dengan kondisi panas yang tercatat di atas ambang batas yang telah ditetapkan.  Adapun BOM [3] menetapkan tiga hari berturut-turut untuk menyatakan bahwa gelombang panas sedang terjadi. Met-Office [4] menyebutkan gelombang panas terjadi pada saat musim panas di utara atau selatan, namun dengan dampaknya yang berbeda-beda. NOAA [5] menyebutkan gelombang panas adalah  kondisi cuaca dengan suhu panas dan kelembapan yang tidak normal dan sangat tidak nyaman.

WMO [1] menyarankan untuk menggambarkan kuantitas gelombang panas, setidaknya mencerminkan empat hal berikut :
  • Magnitudo atau ukuran besarnya suhu dari gelombang panas
  • Durasi gelombang panas
  • Severiti gelombang panas, yang diukur berdasarkan perpaduan magnitudo  dan persistensinya
  • Luasan yang terdampak gelombang panas

Berdasarkan intensitasnya, gelombang panas dibagi menjadi tiga kategori [3] yaitu :
  • Low; intensitas panas masih umum, umumnya manusia masih bisa bertahan dengan kondisi ini.
  • Severe; lebih jarang, suhu panasnya mulai  mengganggu orang-orang yang rentan seperti manula dan yang telah memiliki masalah medis sebelumnya.
  • Ekstrem; berbahaya bagi siapa saja termasuk infrastruktur seperti gedung dan jaringan telekomunikasi.

Penyebab Heatwave atau gelombang panas

Beberapa literatur menyebutkan pemicu munculnya gelombang panas yang terjadi pada beberapa negara yaitu antara lain :
  • Jet stream atau arus jet yang melemah
Jet stream atau arus jet adalah angin kencang di atmosfer yang bergerak dalam aliran yang sempit pada ketinggian 5 -7 km di atas permukaan bumi, bergerak mengelilingi bumi dari barat ke timur dengan kecepatan lebih dari 250 km/jam. Kecepatan tersebut tidak terasa di permukaan tanah.

Gambar 4. Jetsream, sumber : "Met Office"

Jet  stream bergerak dengan membawa kelembapan dari daerah tekanan tinggi. Pada saat jet stream melemah, maka suhu panas pada daerah yang sedang mengalami musim panas akan tertahan pada daerah tersebut. Perhatikan gambar di bawah ini.

Gelombang panas di Korea
Gambar 5. Gelombang panas di Korea; sumber : "The Weather Channel"
Gambar 5 menunjukkan aliran jet stream yang membendung suhu panas di sekitar Tiongkok, Korea dan Jepang sehingga terbentuk kantong panas. Semakin lama kantong panas terbentuk maka semakin meningkat pula suhu udara di daerah tersebut yang pada akhirnya menyebabkan gelombang panas. Sementara daerah sebelah utara dari  bentangan jet stream menjadi basah dan dingin.

Kubah tekanan tinggi yang terbentuk di dekat Korea yang tersaji pada Gambar 4 di atas memberi dampak sistem cuaca lain seperti angin  dan udara lembab tidak bisa memasuki area tersebut sehingga cuaca yang terbentuk menjadi cerah dan kering.

  • Pemanasan suhu udara secara adiabatis
Perhatikan gambar berikut.
Udara turun yang mengalami pemanasan adiabatik
Gambar 6. Udara turun yang mengalami pemanasan adiabatik, sumber : "NOAA SciJinks"

Tekanan tinggi terbentuk pada lapisan atmosfer. Tekanan tinggi tersebut memaksa udara turun ke permukaan bumi. Mengikuti konsep termodinamika, udara yang bergerak turun akan mengalami kompresi sehingga suhunya bertambah tinggi. Saat mencapai permukaan bumi, udara yang pengalami pemanasan secara adiabatis tersebut akan memanaskan suhu udara di permukaan bumi. Udara turun juga menjadi semacam penutup, sehingga udara di permukaan tidak bisa naik. Jika udara tidak bergerak naik maka proses pembentukan awan dan hujan menjadi terhalang sehingga udara menjadi semakin panas. Teori ini digunakan NOAA untuk menjelaskan terjadinya gelombang panas di Mexico dan Amerika Serikat pada tahun 2012 [6].

Tips menghadapi gelombang panas

Meski gelombang panas belum pernah dilaporkan terjadi di wilayah topis seperti negara kita[1], baiknya kita bersiap jika suatu ketika berkunjung ke negara yang memiliki riwayat kejadian gelombang panas. Berikut tips jika terjebak pada kejadian gelombang panas yang dikutip dari "The Weather Channel" yaitu :
- Berada di ruangan dengan pendingin udara sebisa mungkin.
- Minum air putih lebih banyak dari biasanya.
- Mengenakan pakaian yang longgar dan ringan.
- Menjauh dari tungku api atau oven.
- Mandi dan berendam di air.

Demikian ulasan gelombang panas yang terjadi di Korea Selatan dan penyebabnya. Semoga bermanfaat.



Referensi dalam artikel Gelombang Panas ini :
[1] WMO - Heatwaves and Health:Guidance on Warning-System Development
[2] WMO - Guidelines On The Defintion And Monitoring Of Extreme Weather And Climate Events
[3 BOM - How will I know if a heatwave is coming
[4] Met-Office - Heatwave
[5] NOAA - Weather Glossaary
[6] NOAA- SciJinks


Subscribe to receive free email updates:

7 Responses to " Gelombang panas di Korea Selatan, begini penyebabnya "

  1. Beruntung negara kita belum dan jangan sampai terjadi gelombang panas seperti itu ya, bang Day.
    Menakutkan.
    Membayangkan panas tingginya saja bikin begidik ...

    BalasHapus
  2. Saya baru tahu kalo Korsel bisa kena gelombang panas juga soalnya kalo nonton dramanya melihat cuacanya mereka selalu dingin .. gak bisa dibayangkan kalo negara kita juga kena. Apalahi sampai menelan korban jiwa. Btw, saya suka sama websitenya mendetail

    BalasHapus
  3. Mudah-mudahan di Indonesia nggak pernah ada heatwave kayak gini. Serem. Pernah melihat di India, aspal aja sampe meleleh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bang Doel. Secara teori kita tidak bakal terkena gelombang panas tersebut

      Hapus
  4. Makasih kak tipsnya, baru tau kalau musim gelombang panas emang harus banyak minum ya biar cairan tubuh terpenuhi selalu ya kak

    BalasHapus

Terima kasih