Memahami Fenomena Hujan Asam, Penyebab dan Proses Terjadinya

Climate4life.info - Hujan asam merupakan sebuah istilah yang bermakna luas, mencakup segala bentuk presipitasi yang disertai kandungan asam di dalamnya. 

Kandungan asam tersebut dapat berupa asam nitrat dan asam sulfat baik dalam bentuk kering ataupun basah.

Alur pembentukan hujan asam. Gambar: https://www.freepik.com/

Presipitasi sendiri adalah bentuk jatuhan hidrometeor seperti salju, es dan ataupun hujan yang sampai ke permukaan bumi.

Baca juga:

Dengan demikian sebenarnya pengunaan istilah “hujan asam” pada beberapa literatur dianggap kurang pas  untuk menjelaskan jatuhnya asam-asam dari atmosfer ke permukaan bumi. 

Lebih tepat menggunakan istilah deposisi asam, karena merupakan proses pengendapan asam dari atmosfer ke permukaan bumi.

Pada saat proses pengendapan asam tersebut tidak hanya melalui air hujan tetapi juga melalui bentuk presipitasi lain seperti  kabut, embun, salju, aerosol bahkan pengendapan langsung.

Pengunaan frasa deposisi asam akan bermakna lebih luas dari hujan asam. Deposisi asam sendiri terbagi menjadi ada dua jenis yaitu deposisi kering dan deposisi basah. 

Deposisi basah terjadi bersamaan dengan proses pembentukan awan yang kemudian turun sebagai hujan.  Adapun deposisi kering ditunjukkan dengan gas dan aerosol yang mengandung unsur asam dalam aerosol. 



Penyebab terjadinya hujan asam

Robert Boyle adalah orang yang pertama memperkenalkan fenomena hujan asam di awal abad 17. Dalam bukunya berjudul “A General History of the Air“ yang terbit pada tahun 1960 ia menggambarkan fenomena hujan asam dengan istilah “Nitrous or salino-sulforus spiris“. 

Selanjutnya sekitar awal abad ke-18 merebaknya penggunaan bahan bakar batubara dan minyak sebagai sumber utama energi untuk mesin-mesin saat revolusi industri di Eropa menjadi faktor utama meningkatnya gas-gas SO2, NOx dan HCl di atmosfer.

Gas SO2, NOx dan HCl  biasanya berasal dari gunung api dan kebakaran hutan. Di Indonesia kejadian letusan gunung api dan kebakaran hutan sering terjadi.

Untuk kebakaran hutan dan lahan sendiri terjadi berulang kali setiap tahun. Ketika memasuki musim kering apalagi memasuki musim kering ekstrim yang dipicu adanya El Nino, kebakaran hutan/lahan meluas pada beberapa provinsi di Indonesia.
Baca:

Kebakaran hutan lindung maupun kebakaran perkebunan meskipun sudah diantisipasi tetap juga terjadi dan tidak bisa dihindari. 

Peningkatan emisi gas-gas hasil pembakaran bahan bakar dan biomassa seperti Karbon Dioksida (CO2), Karbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Oksida (NOx), Dinitrogen Oksida (N2O), Metana (CH4), hidrokarbon lain dan aerosol ke udara akan mempengaruhi konsentrasi Ozon (O3) dan berdampak pada terjadinya hujan asam.


Proses terbentuknya hujan asam

Proses terjadinya hujan asam di bumi berasal dari beragam aktivitas baik aktivitas alam maupun aktivitas manusia sebagaimana terlihat pada Gambar 1 di atas.

Aktivitas tersebut menghasilkan  berbagai macam gas penyebab hujan asam, seperti karbondioksida, karbon monoksida, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida.

Penguapan berasal dari berbagai macam sumber air karena pemanasan sinar matahari. Setelah itu uap air yang timbul dari pengembunan tersebut akan bertemu dengan gas-gas seperti karbon dioksida, karbon monoksida, nitrogen oksida dan sulfur oksida sehingga menyebabkan terjadinya hujan asam. 

Adanya pertemuan uap air dengan karbon dioksida atau karbon monoksida ini akan menghasilkan asam yang bersifat lemah. Hidrogen oksida dan sulfur dioksida ketika bertemu dengan uap air akan menghasilkan asam yang bersifat kuat. 

Kemudian kandungan yang bertemu tersebut terbawa oleh angin menuju tempat yang jauh dari sumbernya dan semakin ke atas. Ketika sudah sampai di atas, gas yang bercampur dengan uap air tersebut akan mengalami kejenuhan sehingga menjatuhkan kandungan airnya sebagai hujan. 

Hujan inilah yang yang dinamakan sebagai hujan asam.


Deposisi asam terjadi apabila asam sulfat, asam nitrat, atau asam klorida yang ada di atmosfer baik sebagai gas maupun cair terdeposisikan ke tanah, sungai, danau, hutan, lahan pertanian, atau bangunan melalui tetes hujan, kabut, embun, salju, atau butiran- butiran cairan (aerosol), ataupun jatuh bersama angin.


Mengukur kadar hujan asam

Seberapa jauh kadar asam yang terkandung dalam air hujan dapat diukur dengan skala pH air hujan tersebut. Kita tahu skala pH adalah 1- 14 di mana nilai tengah 7 dinyatakan sebagai pH netral.

Semakin rendah pH suatu zat atau semakin kurang dari 7 semakin bersifat asam. Sebaliknya, semakin tinggi pH suatu zat (lebih besar dari 7) maka semakin bersifat basa. 

Hujan normal sendiri memiliki pH sekitar 5,6 atau bersifatsedikit asam karena adanya karbon dioksida (CO2) larut ke dalamnya membentuk asam karbonat lemah. Adapun hujan asam biasanya memiliki pH antara 4,2 dan 4,4.

Gambar 2. Skala pH untuk mengetahui kadar keasaman air hujan. Gambar: https://www.epa.gov/acidrain/what-acid-rain


Manfaat dan dampak dari hujan asam

Seperti halnya hujan pada umumnya, hujan asam mempunyai manfaat sendiri bagi alam sekitar. Walaupun hujan asam dianggap lebih membawa kerugian namun keberadaannya di bumi  juga membawa manfaaat. 

Salah satu manfaat hujan asam adalah berfungsi melarutkan berbagai mineral yang sangat dibutuhkan oleh binatang dan tumbuhan yang ada di bumi. Kandungan asam yang tinggi pada hujan asam akan mampu melarutkan mineral di dalam tanah.

Dampak negatif yang ditimbulkan oleh hujan asam ini diantaranya adalah mengganggu ekosistem laut. Populasi ikan dan binatang laut lainnya akan terganggu karena pH air yang berganti, pertumbuhan akar yang terhambat, terjadinya erosi dan menurunnya kesuburan tanah. 

Hujan asam yang mengandung senyawa kimia kuat juga akan memberikan dampak pada berbagai jenis logam besi menjadi berkarat (korosif), serta gangguan kesehatan secara langsung jika terkena kulit, maka kulit akan mengalami iritasi bahkan menimbulkan penyakit kulit lainnya.

Baca juga:

Menilik dari proses kimia di atmosfer seperti pada uraian di atas terhadap hujan, maka hujan setelah terjadinya kebakaran hutan/lahan dan musim kemarau tentunya berbahaya dan bersifat asam. 

Atmosfer tentunya banyak mengandung senyawa/polutan berbahaya saat terjadinya kebakaran hutan/lahan yang menyebabkan ketika terjadi hujan, hujan tersebut akan menjadi asam dan berbahaya. 

Begitu juga pada saat musim kemarau yang berarti pencucian terhadap atmosfer jarang terjadi dan ketika hujan turun setelah musim kemarau, hujan tersebut akan terkontaminasi oleh partikel dan debu yang mengandung senyawa/polutan yang menyebabkan hujan bersifat asam.


Upaya mengurangi dan mencegah dampak hujan asam

Upaya dalam pencegahan terjadinya hujan asam dapat kita lakukan cara-cara sebagai berikut: 
  • Pemilihan bahan bakar untuk mengurangi produksi gas yang dapat menyebabkan hujan asam. Bahan bakar tersebut contohnya bahan bakar yang mengandung belerang atau bahan bakar alternatif seperti methanol, etanol dan hydrogen yang rendah.

  • Menerapkan 3R, yaitu Reuse, Recycle dan Reduce. Dengan cara ini barang dapat digunakan kembali atau didaur ulang sehingga mengurangi jumlah sampah/limbah yang dihasilkan. 

  • Reboisasi dan penanaman kembali. Reboisasi dan rehabilitas lahan dapat meningkatkan produktivitas lahan dan kualitas lingkungan. 

  • Penambahan zat kapur, agar tanah tetap kaya dengan senyawa kapur yang dapat menetralkan sifat asam dan mencegah tanaman mudah layu.

------------------------------------
Penulis:

Post a Comment

23 Comments


  1. Waah berarti ada tahapan2nya yaa mas. Bingung juga kalau tidak faham dengan prosesnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. intinya ada zat-zat polutan yang masuk ke atmosfer kemudian bersenyawa menghasilkan asam yang kemudian turun bersama hujan

      Delete
    2. Jadi ingat salah satu film, di masa depan bumi sudah biasa hujan asam, tiap orang yang keluar rumah harus pakai pakaian pelindung kayak astronot.😂

      Delete
    3. Sekarang aja baru corona udah pake masker ke mana2 mas. Turut prihatin atas wabah ini

      Delete
  2. Perlu mengurangi pemakaian bahan bakar yang bisa menyebabkan hujan asam dan juga reboisasi kembali ya kang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, mulai dari diri sendiri dulu hehehe

      Delete
    2. Ngeri ya kalo di Indonesia ada hujan asam. berbagai jenis logam besi menjadi berkarat dan gangguan kesehatan secara langsung jika terkena kulit, maka kulit akan mengalami iritasi bahkan menimbulkan penyakit kulit lainnya

      Delete
  3. Saya juga lebih sependapat dengan istilah deposisi asam.

    ReplyDelete
  4. Jadi kepikiran cari bahan bakar alternatif mas. Siapa tahu bisa menunda hujan asam

    ReplyDelete
  5. kalo sampe kejadian di siini bsa bahaya juga ya bang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada beberapa tempat yang kadar asam air hujannya cukup tinggi terlihat pada atap seng rumah yang mudah berkarat atau bangunan yang gampah keropos

      Delete
  6. Kalau di pilm pilm sains fiction atau di novel futuristic itu..hujan asam kok kayak serem bgt ya bang
    Tak disamgka, ternyata ada manfaatnya juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namun dampak negatifnya lebih besar. Kalo yang di film2 bisa jadi juga suatu saat akan seperti itu jika kadar asam air hujan sangat tinggi

      Delete
  7. Tulisannya bagus kak, rinci tapi tetep mudah dipahami orang awam kaya saya :D

    ReplyDelete
  8. Ternyata hujan asam bermanfaat juga bagi makhluk hidup yang ada di bumi ya bang.

    Kalau saya taunya hujan itu hanya tetesan air, baru tau kalau ternyata ada jenis hujan yang mengandung kadar asam juga, hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Manfaatnya cmn 1 tapi negatifnya lebih banyak lagi Kang

      Delete
  9. saya kira hujan asam ini ga ada manfaatnya sama sekali mas, ternyata ada yaitu melarutkan mineral di tanah. yang jadi pertanyaan saya, kalau seandainya ga ada hujan asam, apakah mineral di tanah tetap bisa larut dengan media lain?

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon tidak meletakkan link hidup yah.