Hari Ibu: Para Perempuan Tangguh Yang Berkarir pada Bidang Cuaca dan Iklim di Indonesia


Climate4life.info | Hari Ibu -  Para Perempuan Tangguh Yang Berkarir di Bidang Cuaca dan Iklim

Meteorologi merupakan induk dari ilmu tentang cuaca dan iklim, salah  satu disiplin ilmu yang tidak banyak digeluti oleh perempuan di Indonesia.

Berkarir di bidang cuaca dan iklim mungkin akan menjadi pilihan terakhir para pemuda-pemudi Indonesia.

Menjadi seorang meteorologis atau orang yang ahli pada bidang cuaca dan iklim sepertinya dianggap pekerjaan yang sulit karena harus menguasai ilmu sains utamanya fisika dan matematika.

Pelajaran yang banyak dihindari oleh banyak pelajar.

Baca juga:

Di Indonesia, lembaga resmi yang menangani urusan cuaca dan iklim adalah BMKG, merujuk pada UU No. 31 tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.

WMO menyebut lembaga seperti BMKG ini pada negara-negara di dunia ini sebagai National Meteorological and Hydrological Services (NMHS).

WMO membantu menyediakan regulasi dan panduan-panduan terkait pelaksanaan layanan cuaca dan iklim pada tiap negara tersebut.

BMKG sendiri dalam rangka menyediakan berbagai data dan informasi dalam menyelenggarakan kegiatan meteorologi dan klimatologi memiliki jaringan stasiun yang tersebar di seluruh Indonesia, selain tentunya kantor pusat di Jakarta, balai besar pada lima wilayah dan satuan kerja mandiri.

Sumber daya manusia yang ditugaskan pada seluruh kantor dan jaringan stasiun tersebut tidak memandang gender. Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan berkontribusi dengan baik di semua lini BMKG.

Selengkapnya:

Dalam rangka peringatan Hari Ibu 2020, berikut profil para perempuan tangguh yang berkarir di bidang cuaca dan iklim khususnya di BMKG.

Mereka adalah para perempuan rela berbagi peran dengan kesibukannya berdinas dan juga sebagai seorang ibu. Mereka ada yang berdinas di pelosok tanah air, jauh dari keluarga, suami dan anak-anak.


Widyaiswara Utama Perempuan Pertama BMKG

Dra. Nurhayati, MSc saat ini adalah seorang Widyaiswara Utama BMKG. Ia merupakan perempuan pertama yang meraih jabatan tertinggi di bidang fungsional Widyaiswara ini.

Dra. Nurhayati, M.Sc, Widyaiswara Utama perempuan pertama di BMKG

Pegawai BMKG kelahiran tahun 1958 ini juga merupakan prakirawan cuaca dan iklim perempuan pertama yang bisa menyelesaikan studi master di luar negeri. Saat itu studi ke luar negeri masih didominasi pegawai laki-laki.

Artikel terkait:

Sebelum menjadi Widyaiswara Utama, Nurhayati pernah menduduki jabatan eselon dua sebagai Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG dan juga sebelumnya sebagai Kepala Pusat Iklim, Agroklimat, dan Iklim Maritim. 

Ia merupakan alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (sekarang STMKG) tahun 1980 jurusan meteorologi. Nurhayati kemudian menamatkan S1 pada jurusan Fisika UI tahun 1989 dan meraih gelar master bidang Sains pada Monash University di Australia tahun 1994.

Kecintaannya pada bidang klimatologi membuat Ia dipercaya meniti jabatan mulai dari kepala subbidang, kepala bidang dan kepala pusat semuanya pada area cuaca dan iklim.

Kesibukan semakin padat kala itu karena juga bertugas sebagai representasi BMKG pada beberapa pertemuan Internasional terkait perubahan iklim dan juga sebagai PIC Continuous Greenhouse Gases Measurement yang merupakan kontak WMO untuk GAW Indonesia (2005– 2009)

Atas pengalamannya sebagai pejabat struktural yang mengelola banyak staf dari berbagai latar belakang, Nurhayati memilih menjadi Widyaiswara guna fokus pengembangan dan kompetensi SDM yang dimiliki BMKG tersebut.

Kiprah Nurhayati pada dunia iklim juga diabadikan oleh WMO dalam laman Women In Action 2015. Quote WMO pada laman tersebut sebagai berikut:

Can women be successful in science? The overwhelmingly positive experience from the women interviewed below proves that they can. These women overcame obstacles to be the “first” women in many areas of their careers and to pave a way for others to follow.

Berbagai kesibukan pada beragam tugas negara yang embannya tentunya menjadi tantangan sendiri saat harus berbagi berperan sebagai ibu dalam keluarga.

Dalam peringatan Hari Ibu, menurutnya Ia mendapat dukungan penuh keluarga untuk terus berkarir meski kadang faktor budaya masih memandang perbedaan gender dalam hal peran perempuan di luar rumah.




Sekretaris Korpri Perempuan Pertama BMKG

Evi Lutfiati, SSi, MM merupakan alumni AMG jurusan meteorologi tahun 1984. Pada awal tugas pengabdiannya, Ia menjadi forecaster cuaca pada Stasiun Meteorologi Bandara Ngurah Rai Bali.

Evi Lutfiati, SSi, MM, Sekretaris Korpri Perempuan Pertama BMKG

Sarjana sains diraihnya dari Jurusan Fisika UI tahun 2000 yang mengantarnya menjadi kepala kelompok klimatologi pada Balai III BMKG di Denpasar.

Setelahnya Evi kemudian mendapat promosi namun harus berpindah tugas ke Kalimantan Selatan sebagai kepala seksi data dan Informasi pada Stasiun Klimatologi Banjarbaru.

Baca juga:

Selepas dari Banjarbaru, Evi kemudian mendapat kepercayaan menjadi kepala seksi data dan Informasi pada Stasiun Klimatologi Semarang. Di sini pula Ia berhasil meraih gelar Master Manajemen pada Universitas Negeri Semarang.

Kinerja di Semarang rupanya menarik perhatian pejabat tinggi BMKG sehingga menarik Evi menjadi salah satu kepala Bidang pada Kedeputian Klimatologi BMKG.

Atas dedikasinya selama menjadi kepala bidang inilah kemudian Evi dipercaya menjadi Sekretaris Korpri BMKG, sebuah jabatan setingkat eselon II di BMKG. Ia menjadi perempuan pertama yang menduduki jabatan ini.

Berpindah-pindah tempat kerja bukan hal mudah. Evi juga pernah mendapat protes dari anak-anaknya karena kesibukannya. Dengan peran Ibu yang selalu telaten perlahan anak-anak dapat memahami tuntutan karirnya.



Doktor Perempuan Pertama BMKG

Ida Pramuwardani merupakan doktor perempuan pertama BMKG di bidang geografi yang fokus pada sains atmosfer.

Ia berhasil meraih gelar Doktor pada UGM atas penelitian Model Persebaran Hujan di Indonesia pada tahun 2019. Ia menjadi perempuan pertama di BMKG yang berhasil meraih gelar ini. 

Dr. Ida Pramuwardani, ST. M.Si, saat pengukuhan Doktor

Beberapa pengalaman yang diperoleh saat mengikuti studi doktoral adalah mengikuti program pertukaran pelajar mahasiswa S2 dan S3 di Jepang dan mengikuti konferensi-konferensi nasional dan internasional.

Ida adalah alumni AMG jurusan meteorologi tahun 2005. Awal karirnya adalah sebagai prakirawan cuaca pada BMKG Pusat. Sama seperti pegawai laki-laki lainnya, Ida pun menjalani pola shift dinas 24 jam. Artinya Ia bisa masuk kantor pagi seperti biasa dan siap pula menjalani dinas malam.

Selengkapnya:

Pada tahun 2008, di antara padatnya jadwal dinas pagi, siang dan malam Ida berhasil menamatkan S1 pada Universitas Islam Attahiriyah. Bukan hal yang mudah karena Ia juga seorang ibu yang harus mengurus keluarga, suami dan anak-anaknya.

Tak sampai di situ, semangat memperdalam ilmu meteorologi mengantarkannya mendapat tugas belajar dan meraih gelar master pada Ilmu Kelautan UI pada tahun 2012.

Tidak hanya rutinitas dinas sebagai prakirawan cuaca di BMKG Pusat, beberapa kegiatan lain pernah dilakukan berkaitan dengan bidang meteorologi, diantaranya adalah menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG), ikut serta dalam kegiatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) bersama instansi lainnya dan sebagai pembawa berita informasi cuaca di Televisi Nasional. 

Saat ini Ida masih melanjutkan beberapa penelitian khususnya untuk pemodelan MJO dan gelombang ekuator serta penelitian di bidang meteorologi lainnya.

Selain itu ia juga masih aktif menjadi dosen pembimbing serta tetap menjalin kerja sama dengan institusi pendidikan lainnya baik sebagai dosen tamu maupun kontributor di bidang ilmu meteorologi.

Sebagai perempuan yang menjadi bagian dari ASN, menjalankan tugas negara adalah kewajiban, namun menjadi ibu adalah prioritas! Demikian prinsip Ida yang diutarakan dalam refleksi peringatan Hari Ibu tahun ini.




“Professional Staff” Pertama BMKG pada WMO di Jenewa, Swiss

Anni Arumsari Fitriany, S.Si merupakan sarjana Geofisika UI yang mengawali karir sebagai analis pada Subbidang Analisa Data Radar dan Satelit Cuaca BMKG sejak tahun 2005.
Anni Arumsari dalam satu ruang sidang badan PBB


Mengemban amanah penempatan awal di bidang analisa satelit meteorologi, yang bukan merupakan bidang studinya di tingkat Sarjana, maka Ia memutuskan untuk meneruskan studi di bidang satelit meteorology di India pada tahun 2006/2007.

Karena dedikasi yang tinggi dan kemahirannya pada bahasa Inggris, pada tahun 2009, Ia kemudian diangkat menjadi Kepala Sub Bagian Kerjasama Luar Negeri BMKG.

Tugasnya mengurusi segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kerjasama BMKG dengan Pihak asing diantaranya dengan lembaga pemerintah asing, lembaga riset asing, universitas asing, serta Organisasi internasional, seperti WMO, IOC UNESCO, CTBTO, dan lain-lain.
Baca juga:

Dedikasi yang tinggi pada pekerjaannya, mengantarkan Ia mendapat kepercayaan menjadi perwakilan BMKG pada Kantor Pusat Badan Meteorologi Dunia (WMO) di Jenewa, Swiss.

Ia adalah orang pertama sekaligus perempuan pertama di BMKG yang mendapat posisi Professional Staff ini pada Regional Office for Asia and the South-West Pacific (RAP office), Development and Regional Activities Department, World Meteorological Organization.

Selama satu tahun di WMO (2015/2016), Anni bertugas membantu RAP office dalam pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas National Meteorological and Hydrological Services (NMHSs) para anggota WMO.

Utamanya para anggota pada negara-negara kepulauan kecil di wilayah Pasifik serta membantu negara-negara Pasifik dalam Perencanaan dan pengembangan Rencana Strategis Nasional pengembangan kapasitas NMHSs, termasuk membantu BMKG Indonesia dalam  peningkatan kapasitas melalui kegiatan kerja sama WMO. 

Sepertinya menyenangkan bekerja di luar negeri, namun Ia sempat harus berpisah dengan keluarganya di tanah air pada Masa awal penugasannya. Bukan sesuatu yang mudah tentunya bagi seorang ibu yang tetap berusaha menyeimbangkan perannya baik di luar rumah maupun di tengah keluarga.

Menurutnya, peran Ibu dalam menjalankan tugas negara juga merupakan salah satu peran Ibu dalam mendidik dan memberikan pemahaman kepada anak-anak nya bahwa Perempuan juga dapat berkontribusi besar bagi Negara dan rela mengorbankan waktunya yang sangat berharga yang seharusnya bisa dihabiskan bersama anak-anak nya demi Negara Indonesia.

Setelah menuntaskan kewajibannya, Anni kemudian kembali ke Indonesia dan pada akhir tahun 2016 dipromosikan menjadi Kepala Bagian Kerjasama BMKG yang mengkoordinasikan kegiatan Penyusunan dan pelaksanaan kerja sama dalam dan luar negeri di lingkungan BMKG.




Perempuan Tangguh BMKG dari Pelosok Indonesia

1. Mengabdi dari Timor Leste hingga Borneo

Catur Winarti, SP mengawali karir sebagai forecaster meteorologi pada Stamet Comoro Dili Timor Timur tahun 1997, setahun setelah menamatkan studi pada jurusan meteorologi - AMG di Jakarta.

Setelah Timor Timur menjadi negara sendiri dengan nama Timor Leste, Catur Winarti memilih tetap mengabdi pada Indonesia.

Catur Winarti, SP, perempuan yang berdinas dari Timor Timur, NTB, Jakarta hingga Kalimantan

Perjalanan eksodus dari Dili menuju wilayah Indonesia saat itu tidaklah mudah. Sehari setelah referendum dimenangkan kubu pro kemerdekaan, kerusuhan pecah di Timor Timur. Keselamatan jiwa menjadi taruhan dalam proses mencari jalan menuju wilayah Indonesia.

Catur kemudian dijadikan forecaster meteorologi pada Stasiun Meteorologi Bandara Selaparang, NTB. Di sini pula dengan harus berbagi waktu antara jadwal dinas Ia berhasil meraih gelar sarjananya dan kemudian diangkat menjadi Kepala Seksi Observasi dan Informasi pada kantornya.

Karakternya yang pekerja keras dan tidak pernah memilih pekerjaan mengantarnya mendapat promosi menjadi kepala stasiun pada Stamet Sumbawa Besar dan kemudian ke Stamet Bima. 

Kedua lokasi ini membutuhkan waktu masing-masing 6 jam dan 12 jam ke tempat orang tuanya menetap. Padahal Ia sendiri adalah tulang punggung keluarganya yang harus merawat orang tua serta membiayai adik-adiknya dan tentu putra-putrinya.

Semuanya dijalaninya dengan penuh semangat. Berpindah tugas dari satu tempat ke tempat lain yang beda provinsi sepertinya takdir yang harus dilaluinya.

Setelah mendapat promosi ke Denpasar Bali, Catur kemudian  mendapat tour of duty ke Jakarta dan sekarang berdinas di Palangkaraya.


2. Mengamati Cuaca dan Iklim dari Pulau Terpencil

Efa Septiani, S,Tr mungkin tidak menyangka saat lulus dari STMKG mendapat tugas sebagai forecaster cuaca di Bandara Naha, pada sebuah pulau kecil di Laut Sulawesi yang hampir berbatasan dengan wilayah Filipina.

Efa Septiani dalam satu kesempatan membawakan informasi cuaca di TV

Sebagai Abdi negara, tugas ini dijalani dengan sepenuh hati meski untuk mencapai lokasi penempatan Efa harus transit di Manado. Jika bertepatan dengan jadwal pesawat maka perjalanan bisa diteruskan via udara.

Pilihan lain adalah naik kapal laut dengan waktu tempuh 24 jam dari Pelabuhan Manado ke Tahuna.

Tugas rutin sehari-hari Efa adalah melakukan pengamatan meteorologi. Tak pandang panas atau hujan, data cuaca harus tersedia. Jika tidak operasional penerbangan yang membutuhkan informasi cuaca akan terganggu.

Saat masih menjadi pengamat cuaca di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara

Saat ini Efa adalah salah satu forecaster meteorologi senior di BMKG Pusat yang bertugas menyampaikan prakiraan cuaca harian Indonesia.

Seperti halnya Efa, Wulan Wandarana, S.Tr selepas pendidikan dari STMKG tahun 2015 juga mendapat penempatan pada kabupaten kecil yang jauh dari kampung halamannya.

Tepatnya pada Stasiun Meteorologi Muhammad Kaharuddin Sumbawa Besar di mana Ia menjadi pengamat meteorologi.

Wandarana saat menjadi pengamata cuaca di Sumbawa - NTB

Karena keterbatasan rumah dinas, di sana Ia harus tinggal pada kamar kost dengan biaya sendiri. Sebagai Calon PNS dengan gaji hanya 80%, tentunya ini merupakan tantangan hidup tersendiri yang harus dihadapinya.

Wanda cukup beruntung karena tidak sampai setahun Ia kemudian mendapat kesempatan melanjutkan studi jenjang diploma IV ke STMKG. Saat lulus 2018 Wanda kemudian direlokasi ke Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid Lombok sebagai forecaster meteorologi.

Lokasi ini pun masih jauh dari kampung halamannya di Denpasar, Bali.

Jauh di sebelah timur, tersebutlah Nastiti Andini S.Tr, seorang prakirawan iklim pada Stasiun Klimatologi Maluku. 

Nastiti Andini S.Tr sedang melakukan penakaran curah hujan menjadi dasar informasi iklim

Sebagai seorang perempuan yang lahir dan besar di kota besar Tangerang tentu tak menyangka setelah menamatkan pendidikan dinas pada STMKG tahun 2015 di tempat pada kantor yang jauh terpencil pada sebuah pulau di Maluku.

Nastiti merupakan angkatan pertama program studi Klimatologi STMKG yang kemudian berdinas pada salah satu stasiun klimatologi yang cukup jauh yaitu di Pulau Seram. Dari Jakarta dia hanya bisa turun di Bandara Pattimura Ambon.

Perjalanan harus dilanjutkan dengan angkutan darat selama 1 jam dan kemudian menyeberang dengan kapal feri selama 1,5 jam.

Dari pelabuhan Seram butuh waktu 15 menit perjalanan untuk sampai di kantornya. Keterkejutan Nastiti belum selesai, kantor dan rumah dinasnya ternyata berada di tengah sawah yang jauh dari pemukiman. Namun ini hanya sebentar.

Nastiti tetap bekerja dengan penuh loyalitas. Ia tercatat menjadi salah satu forecaster iklim handal BMKG yang mendapat kesempatan mengikuti pelatihan Young Scientist Support Program (YSSP) diselengarakan oleh APEC Climate Center di Busan-Korea Selatan selama 3 bulan pada tahun 2018.

Ia juga sudah berhasil menerbitkan jurnal internasional dengan judul Operational soil moisture modeling using a multi-stage approach based on the generalized complementary principle. Meski berdinas dari sebuah tempat di pelosok Indonesia ia bisa  berkontribusi pada tingkat dunia.



3. Menjaga Kualitas Udara Indonesia dari belantara hutan tropis Sumatera

Nun jauh di tengah belantara hutan hujan tropis Sumatera, di sanalah Tanti Tritama Okaem, S.Si berdinas sehari-hari.

Tanti Tritama - Analis Kualitas Udara GAW Kototabang

Ia menjadi analis kualitas udara pada Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang - Sumatera Barat.

Tanti mungkin tidak menduga, pada sebuah bukit dengan ketinggian 864 meter di atas permukaan laut di tengah rimbunnya hutan Sumatera terdapat sebuah unit kerja BMKG. Di sanalah Ia ditempatkan. 

Sebagai sarjana kimia Universitas Andalas, Tanti berpikir bahwa laboratorium hanya ada di kota besar. 
Baca juga:

Seorang perempuan yang suka tantangan dan analisis membuat Tanti suka dan betah bekerja di GAW Bukit Kototabang. Meskipun di stasiun ini dia satu-satunya PNS perempuan yang bertugas dalam operasional.

Sebagai bentuk dedikasi serta berkontribusi untuk indonesia yaitu melakukan tugasnya pada pemantauan gas rumah kaca dan komposisi kimia atmosfer dalam upaya pencegahan pemanasan global.



4. Memanjat Menara Demi Alat Pengamatan Cuaca dan Iklim

Memanjat tiang tinggi merupakan tugas rutin Kurnia Rubi Andini, S. Tr. Sebagai teknisi peralatan pada Balai Besar MKG Wilayah III, Ia bertanggung jawab jika terjadi kerusakan pada alat-alat BMKG.

Kurnia Rubi Andini - Teknisi peralatan cuaca dan iklim BMKG

Alumni STMKG tahun 2018 ini memang sejak awal memilih instrumentasi sebagai pilihan karirnya. Padahal umumnya teknisi peralatan didominasi oleh laki-laki. Menurutnya kuliah pada jurusan ini akan menyenangkan karena lebih banyak praktek di bidang teorinya.

Kurnia Rubi saat sedang mengecek peralatan

Memanjat menara peralatan, memotong kabel ataupun bekerja di lapangan saat panas dan hujan bukan sebuah masalah baginya. 

Memang saat pertama kali bekerja pada tiang yang tinggi cukup membuatnya deg-degan, namun ternyata akhirnya justru menyenangkan karena bisa melihat sudut pemandangan yang tidak bisa dilihat oleh banyak orang imbuhnya.

Jauh di atas usia Rubi, adalah Dian Distriati Burhanudin, ST yang baru saja menuntaskan tugas sebagai Kepala Sub Bidang Kalibrasi Peralatan Geofisika BMKG.
Dian saat melakukan kalibrasi peralatan

Setelah menamatkan program Diploma I pada tahun 1983 ia masih berdinas di Jakarta. Pada tahun 1988 setelah menamatkan program Diplom III pada AMG iya berdinas ke Stasiun Meteorologi Biak Papua, mengikuti suaminya.

Menjadi satu-satunya pegawai perempuan diantara 60an pegawai yang ada. Ancaman sakit malaria merupakan hal biasa bagi mereka yang berdinas di Papua.

Kesulitan ditambah lagi dengan ancaman ular-ular yang masih banyak berkeliaran di sekitar rumah dinas mereka. Setiap malam mereka harus membakar ban dalam bekas agar baunya dapat mengusir hewan melata tersebut.

Kecintaan pada pekerjaan membuatnya terbiasa bekerja di tengah para pria, memotong kabel bahkan harus menembus pedalaman guna memperbaiki peralatan. Di sela-sela kesibukannya tersebut Ia masih bisa menamatkan studi  jenjang S1 teknik informatika.

Demikian tulisan dalam rangka peringatan Hari Ibu dengan ulasan Para Perempuan Tangguh Yang Berkarir di Bidang Cuaca dan Iklim.

Related Posts

Post a Comment

18 Comments

  1. Mereka mereka yang sukses itu ternyata orang yg banyak berjuang nya dan ternyata mereka bukan orang yg males justru orang orang yg sibuk ya.
    Jadi kalo mau sukses kemudian dijalani males males jg harap bisa di dapat y.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nice quote Mangs Abdul, usaha emang gak akan membohongi hasil ya

      Delete
  2. Keren banget!
    Walaupun seorang perempuan dan sudah berkeluarga, tapi tetap berprestasi dibidang klimatologi. Salut untuk perempuan Indonesia ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mb, sulit untuk bisa menyeimbangkan karier dan kelaurga tentunya

      Delete
  3. Waahh menarik juga ternyata wanita2 di BMKG yaa bang... Meski mengerjakan sebuah pekerjaan yang dibilang cukup Exstreem tetapi ia tetap fresh dan kelihatan cantik..😊😊

    Bahkan ada yang rela memajat tower demi sebuah keamanan. Duuhh jadi kepengen nih punya cewek BMKG ada yang single nggak bang...🤣🤣🤣🤣

    Dan dengan hari ibu ini kita juga harus menghargai para kaum perempuan apapun pekerjaannya intinya begitu yaa bang.😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Bang Satria, apapun pilihan para kaum perempuan baik karir ataupun keluarga musti kita dukung ya.

      Delete
  4. Ya Allah, kenapa baru sekarng saya temukan tulisan ini? Kereeeeeen. Saluuuut pada mereka para srikandi bidang cuaca dan iklim. Top bangeeet pokonya. Selama ini gak kepikiran tentang karier tersebut lho saya. Tengkiyuuu, Bang Day.

    ReplyDelete
  5. orang orang hebat semua nih pak kapan ya bisa hebat juga seperti mereka

    ReplyDelete
  6. Tak sangka ya, ramai para ibu berkerjaya dalam bidang ni. para ibu yang hebat semuany :)

    ReplyDelete
  7. Inspiratif kaum ibu di Indonesia. Kalau di bidang pendidikan sih dosen2 di kampus saya hebat2. Masih muda banyak yang sudah guru besar. Lalu banyak juga yang berprofesi yang sebetulnya untuk kaum pria, misal supir truk, tenaga keamanan. Apapun profesi mereka, mereka adalah wanita yang luar biasa demi menghidupi keluarganya dan bermanfaat bagi banyak orang. Blognya bang Day satunya lagi kemana? Thx artikelnya

    ReplyDelete
  8. Banggaaa banget deh melihat para wanita keren kayak gini, udah cantik, pinteerrr pula, terlebih yang rela berbakti hingga di pelosok, meninggalkan keluarganya tercinta :)

    ReplyDelete
  9. Salut dengan profil-profil wanita tangguh di atas.
    Bahkan ada yang lahir dan dibesarkan di Tangerang tapi sekarang mau ditempatkan di pulau Seram Maluku.. Sungguh luar biasa wanita seperti itu.
    Wanita-wanita tangguh di atas layak kita sebut sebagai super woman..

    ReplyDelete
  10. wah kalau pas laporan cuaca reporternya mba Efa dijamin nonton terus...

    ReplyDelete
  11. Waaah para wanita tangguh nih..
    baca kisah inspiratif gitu, bisa memotivasi saya juga bang biar berusaha semaksimal mungkin, nggak cuma rebahan doank haha

    ReplyDelete
  12. Mbak Efa bikin saya gagal fokus pak! 😂.

    ReplyDelete
  13. Ya Allah sudah mempesona, cerdas pula..

    ReplyDelete
  14. Wah, keren banget! Dari tampang-tampangnya sudah kelihatan kalau mereka pekerja keras. Pintar pula. Semoga semakin banyak perempuan yang mengikuti jejak mereka berkarir di bidang yang masih didominasi oleh laki-laki.

    ReplyDelete
  15. Aahhhh keren2 para wanitaaa ini ;). Kagum sih Ama wanita yg kerja di posisi yg sbnrnya kebanyakan lelaki. Aku yakin itu pasti tangguh mentalnya.

    Salut Ama Kurnia rubi yg bertugas memperbaiki instrumen cuaca bahkan hrs naik ke tiang2 tinggi. Semoga selalu dilindungi...

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon tidak meletakkan link hidup yah.