Jurnal Tentang Variabilitas Partikulat PM10 pada Stasiun GAW Dekat Ekuator

Climate4life.info - Jurnal Tentang Variabilitas Partikulat PM10 pada Stasiun GAW di dekat Ekuator




Identitas Jurnal

  1. Judul: Variability of PM10 in a Global Atmosphere Watch Station near the equator
  2. Penulis: A Supeni ,D A Permadi, D Gunawan, W Dayantolis, R Suwarman
  3. Penerbit:  The 5th International Conference on Climate Change 2020 - IOP Publishing
  4. Edisi: IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 724 (2021) 012051
  5. DOI: 10.1088/1755-1315/724/1/012051


Abstrak

Particulate Matter atau aerosol berhubungan dengan perubahan iklim dan pemanasan global melalui efek yang disebut dorongan radiasi. Aerosol pembakaran biomassa terdiri dari Black Carbon,  memiliki dorongan radiasi positif yang menghangatkan atmosfir.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memastikan pengaruh pembakaran biomassa di Pulau Sumatera terhadap konsentrasi aerosol. Data yang digunakan adalah konsentrasi  Particulate Matter dengan diameter kurang dari 10 µm (PM10) dari stasiun Global Atmosphere Watch Bukit Kototabang (GAW-BKT) dekat ekuator,  dan data pembakaran biomassa di Pulau Sumatera dari jumlah hotspot Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS).


Baca juga:
  1. Program Global Atmosphere Watch (GAW) - WMO
  2. Mengenal Polusi Partikulat (Particulate Matter - PM), penyebab menurunnya kualitas udara

Statistik dan Analisis spasial dilakukan pada periode 2014-2018, termasuk musim kebakaran biomassa hebat pada tahun 2015.

Dari hasil analisis konsentrasi PM10 dan hotspot (R2 = 0.85) serta lintasan massa udara, kebakaran biomassa di Sumatera merupakan sumber PM10 di yang terukur pada GAW-BKT. Analisis statistik menunjukkan hotspot itu di Sumatera, demikian pula konsentrasi PM10 mengikuti pola monsun di mana  persentil ke-90 hotspot dan konsentrasi PM10 turun pada musim kemarau.

Variabilitas musiman partikulat menunjukkan kontribusi kuat dari pembakaran terbuka biomassa yang terjadi setiap tahun dengan intensitas yang berbeda.



Tujuan Penelitian

Kajian ini bertujuan untuk mendapatkan hubungan konsentrasi PM10 dan Black Carbon dan variabilitas konsentrasi PM10 pada udara ambien di GAW-BKT berkaitan dengan massa udara dan area kebakaran biomassa di Sumatera.


Subjek Penelitian

Konsentrasi PM10 dan Black Carbon (BC).


Metode Penelitian

Data konsentrasi PM10 dan Black Carbon bulanan merupakan hasil pengamatan pada GAW-BKT. Konsentrasi PM10 Instrumennya adalah penganalisis SPM Otomatis MetOne (tipe BAM1020). Untuk konsentrasi Black Carbon instrumennya adalah  Aethalometer Magee Scientific

Pembakaran biomassa yang dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah pembakaran hanya di pulau Sumatera (6,2⁰ S - 5,7⁰ N dan 94.9⁰ E - 106.3⁰ E).  Data pembakaran biomassa diambil dari besaran bulanan hotspot dari data satelit. Data hotspot yang digunakan adalah Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) dari Suomi National Polar Orbiting Partnership (Suomi NPP). 

Baca juga:

Data curah hujan bulanan yang digunakan berasal dari The Climate Hazard group Infrared Precipitation dengan Stasiun (CHIRPS). Curah hujan bulanan diklasifikasikan ke:
  • Kelas 1 (0,0 mm -100,0 mm),
  • Kelas 2 (100,1 mm-200,0 mm),
  • Kelas 3 (200,1 mm-300,0 mm),
  • Kelas 4 (300.1 mm-400.0 mm), dan 
  • Kelas 4 (> 400.1 mm), berdasarkan [19]. 

Peta curah hujan bulanan menunjukkan pola titik api musiman. Data spasial hotspot dan curah hujan diolah dengan software ArcMap 10.7.

Artikel terkait:

Sumber PM10 yang terdeteksi di GAW-BKT diperoleh dari backward air mass trajectories dengan metode HYSPLIT (Hybrid Single-Particle Lagrangian Integrated Trajectory). Model terdiri dari data asimilasi meteorologi untuk menghitung lintasan dalam kerangka Lagrangian. 

Versi HYSPLIT yang digunakan adalah versi online dari NOAA’s READY (Real-Time Environmental Aplikasi dan Tampilan situs web sYstem [21].

Sumber massa udara yang dominan dapat diketahui dari frekuensi lintasan. Data meteorologi yang dipilih adalah Global Data Assimilation System (GDAS) 0,5 derajat. Total "run time" maksimum untuk lintasan frekuensi mundur adalah 120 jam (5 hari).

Artikel menarik:
Penerapan Machine Learning dalam memprediksi iklim alert-info


Aerosol dapat bertahan di atmosfer selama satu hari hingga dua minggu [22], jadi total waktu pengoperasian disetel ke Hysplit's 120 jam. Sumber dikumpulkan secara spasial dengan hotspot untuk memberikan informasi apakah file PM10 yang terdeteksi berasal dari area pembakaran biomassa di Sumatera atau bukan.


Konklusi

Konsentrasi GAW-BKT PM10 tahun 2014-2018 sangat berkorelasi dengan konsentrasi Karbon Hitam (R2 = 0,93) dan jumlah titik api di Sumatera (R2 = 0,85).

Hitungan hotspot dan distribusi spasial hotspot mengikuti pola curah hujan. Asal sumber massa udara juga mempengaruhi konsentrasi PM10, dari area pembakaran biomassa, tempat dengan sumber PM10 lain, atau lautan.

Pdf Jurnal

Related Posts

Post a Comment

5 Comments

  1. Perlu penanganan yang lebih efektif lagi agar pembakaran di Sumatera tidak menjadi rutinitas tahunan demi bumi yang lebih baik.

    ReplyDelete
  2. agak besar jugak partikel PM10 ini.. berbanding PM2.5 kan.. jugak ada ya di sekitar kita kan :)

    ReplyDelete
  3. ini entah saya yg gagal membaca krna engak ngerti, atau memang saya tidak menemukan kesimpulan penelitian ini ya bro??

    ReplyDelete
  4. aduh roaming saya baca ini 😅

    ReplyDelete
  5. Sempat loading saya bacanya, tapi perlahan-lahan mulai paham mas..

    BTW, kalau dibikin dtiktok tuk konten bmkg sepertinya bisa nih mas :)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon tidak meletakkan link hidup yah.