Pada dua artikel sebelumnya kita telah membahas bagaimana laut dan atmosfer saling berhubungan. Laut bukan hanya menerima pengaruh dari atmosfer.
Keduanya terus melakukan pertukaran energi, massa dan momentum di permukaan laut.
Kita juga telah melihat bahwa temperatur dan salinitas air laut berperan dalam menentukan densitas, stratifikasi dan pergerakan massa air. Perubahan di laut pada akhirnya dapat memberikan respons kembali kepada atmosfer.
Namun, ada satu hal yang menarik.
Bagaimana jika gangguan yang terjadi pada laut dan atmosfer tidak hanya terjadi di satu tempat, tetapi merambat ke tempat lain?
Di atmosfer kita mengenal berbagai bentuk gelombang yang dapat membawa energi dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Di laut juga terdapat gelombang yang tidak selalu terlihat jelas dari permukaan tetapi dapat memberikan pengaruh terhadap dinamika laut di kedalaman.
Selain itu, laut memiliki sistem arus yang jauh lebih luas. Arus tersebut tidak hanya bergerak secara lokal akibat tiupan angin, tetapi membentuk suatu sistem perputaran lintas samudra yang dikenal sebagai The Great Ocean Conveyor Belt.
Dan bagi Indonesia, terdapat bagian yang sangat penting dari sistem tersebut yaitu Arus Lintas Indonesia atau Arlindo.
Jadi, setelah memahami hubungan laut dan atmosfer, kita sekarang dapat melihat bagaimana energi dan massa air bergerak dalam skala yang jauh lebih luas.
Gelombang Tidak Hanya Ada di Permukaan Laut
Ketika mendengar kata gelombang, mungkin yang langsung terbayang adalah gelombang laut yang terlihat dari pantai.
Padahal, gelombang tidak selalu harus terlihat sebagai naik turunnya permukaan air. Gelombang dapat merambat membawa energi dari satu tempat ke tempat lainnya.
Dalam atmosfer maupun lautan terdapat gelombang yang berkaitan dengan gaya gravitasi bumi. Gelombang tersebut dikenal sebagai gelombang gravitasi.
Ketika gelombang horizontal mengalir di atmosfer maupun di laut dan kemudian terbentur oleh bukit atau gunung, gelombang tersebut dapat mengalami perubahan dan menghasilkan gelombang di sisi belakang penghalang.
Gelombang yang terbentuk tersebut disebut sebagai gelombang gravitasi karena perjalanannya dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi.
Jadi, keberadaan gunung atau perubahan bentuk dasar laut dapat mengubah perjalanan gelombang.
Gelombang Gravitasi di Atmosfer
Di atmosfer, gelombang gravitasi dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan awan. Ketika aliran udara melewati pegunungan, gangguan terhadap aliran tersebut dapat menghasilkan gelombang pada atmosfer.
Pada bagian tertentu, udara dapat mengalami gerakan naik. Jika kondisi atmosfer mendukung, gerakan naik tersebut dapat menjadi pusat pertumbuhan awan.
Gelombang gravitasi di atmosfer dapat menjadi pusat pertumbuhan awan, termasuk pada daerah bayangan hujan.
Dengan demikian, keberadaan pegunungan tidak hanya menyebabkan perubahan arah atau kecepatan angin. Pegunungan juga dapat menghasilkan gangguan pada aliran udara yang kemudian merambat sebagai gelombang.
Hal ini menunjukkan kembali bahwa kondisi topografi mempunyai peranan dalam dinamika atmosfer.
Gelombang Gravitasi di Laut Tidak Selalu Terlihat dari Permukaan
Bagaimana dengan laut? Di laut, gelombang gravitasi dapat terjadi pada kedalaman tertentu. Salah satu mekanismenya adalah ketika gelombang di laut dalam melewati celah atau lembah yang sempit dan dangkal.
Ketika keluar dari celah tersebut, dapat terbentuk gelombang gravitasi. Yang menarik, gelombang seperti ini pada dasarnya tidak selalu terasa di permukaan.
Namun pada laut dalam, gelombang tersebut dapat mengalami penguatan akibat penjalaran secara vertikal sehingga amplitudonya menjadi besar pada kedalaman tertentu.
Dengan demikian, laut yang terlihat tenang dari permukaan belum tentu benar-benar tenang di bawahnya.
Ada dinamika yang berlangsung pada lapisan laut yang tidak selalu dapat kita lihat secara langsung.
Bagi pelayaran laut dalam, terutama kapal selam, kondisi seperti ini menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Mengapa Gelombang Gravitasi Penting?
Dari sini kita dapat melihat bahwa gelombang gravitasi mempunyai karakter yang menarik. Di atmosfer, gelombang dapat memengaruhi pertumbuhan awan.
Di laut, gelombang dapat mengganggu dinamika massa air pada kedalaman tertentu.
Artinya, energi dapat berpindah melalui gelombang tanpa harus memindahkan massa secara keseluruhan dari satu tempat ke tempat lain.
Ini menjadi salah satu konsep penting dalam memahami sistem bumi. Energi dari suatu gangguan dapat merambat jauh dari tempat asalnya.
Dan konsep tersebut akan menjadi semakin menarik ketika kita melihat bagaimana energi dan massa air bergerak dalam skala samudra.
Dari Arus Lokal Menuju Arus Lintas Samudra
Pada artikel sebelumnya kita telah membahas bahwa angin mempunyai peranan penting dalam pembentukan arus laut.
Angin memberikan momentum kepada permukaan laut sehingga air bergerak. Namun, apakah seluruh arus laut hanya terbentuk karena angin lokal?
Ternyata tidak. Bentuk muka bumi dan morfologi dasar laut juga memberikan pengaruh.
Tekanan di dalam laut yang berkaitan dengan kondisi morfologi dan distribusi massa air dapat menghasilkan arus yang bergerak dalam skala yang sangat luas.
Jika kita melihat pergerakan tersebut secara global, terdapat sistem arus yang mengitari bumi. Sistem inilah yang dikenal sebagai The Great Ocean Conveyor Belt.
Apa Itu Great Ocean Conveyor Belt?
Great Ocean Conveyor Belt merupakan sistem perputaran arus laut lintas samudra. Keberadaan arus tersebut ditemukan sebagai hasil utama penelitian World Ocean Circulation Experiment (WOCE) pada sekitar dekade 1990-an.
![]() |
| Diagram skema 'sistem konveyor' global yang menggambarkan sirkulasi termohalin global |
Secara sederhana, arus ini dapat dibayangkan seperti sabuk konveyor raksasa yang menghubungkan berbagai samudra.
Alirannya tidak hanya berlangsung di permukaan. Sebagian massa air dapat bergerak masuk ke laut dalam dan kemudian muncul kembali di wilayah lain.
Arus permukaan bergerak dari Samudra India menuju Samudra Atlantik. Kemudian arus tersebut bergerak ke Atlantik bagian utara sekitar Greenland dan masuk ke laut dalam melalui proses North Atlantic overturning.
Selanjutnya massa air bergerak menuju Atlantik Selatan, kemudian menuju Pasifik Utara dan wilayah barat Samudra Indonesia.
Di wilayah tersebut massa air kemudian menyembul kembali ke permukaan.
Jika digambarkan secara sederhana:
Tentu saja sistem sebenarnya jauh lebih kompleks daripada gambaran sederhana tersebut.
Namun gambaran ini membantu kita memahami satu hal bahwa laut mempunyai sistem sirkulasi yang mampu membawa massa air dan energi melintasi samudra.
Laut Dalam Membawa Air Dingin ke Permukaan
Bagian yang menarik dari sistem tersebut terjadi ketika massa air laut dalam kembali muncul ke permukaan.
Air laut dalam memiliki temperatur yang lebih rendah. Ketika air tersebut mengalami upwelling, air dingin dari kedalaman dibawa menuju permukaan.
Tetapi bukan hanya temperatur yang dibawa. Air laut dalam juga membawa nutrisi dan karbon ke permukaan.
Penyembulan massa air tersebut merupakan salah satu gejala upwelling terbesar dan menjadi sumber nutrisi serta konsentrasi karbon bagi permukaan laut setempat.
Jadi, sirkulasi laut global tidak hanya berfungsi memindahkan panas. Ia juga berhubungan dengan distribusi berbagai zat yang penting dalam ekosistem laut.
Lalu Di Mana Posisi Indonesia?
Sampai di sini mungkin muncul pertanyaan: Apa hubungan Great Conveyor Belt dengan Indonesia?
Jawabannya sangat penting. Indonesia berada di antara Samudra Pasifik dan Samudra Indonesia.
Di antara kedua samudra tersebut terdapat sistem laut Indonesia yang memungkinkan massa air mengalir dari Pasifik menuju Samudra Indonesia.
Aliran tersebut dikenal sebagai Arus Lintas Indonesia atau Arlindo. Arlindo merupakan salah satu bagian penting dari sistem sirkulasi laut dunia.
Apa Itu Arlindo?
Arlindo merupakan aliran massa air dari Samudra Pasifik menuju Samudra Indonesia melalui perairan Indonesia.
Penumpukan massa air di wilayah warm pool menyebabkan terbentuknya aliran geostropis dari Samudra Pasifik menuju Samudra Indonesia melalui wilayah Indonesia.
![]() |
| Arus Lintas Indonesia (Arlindo) - bluecornerconservation.org |
Arus tersebut tidak hanya melewati satu jalur. Beberapa jalur utama, antara lain melalui Selat Makassar, kemudian menuju Selat Lombok dan Selat Ombai dekat Pulau Timor.
Sebagian aliran lainnya melewati Selat Lifamatola antara Maluku Utara dan Sulawesi Tengah serta melalui Laut Banda sebelum menuju Selat Ombai.
Dengan demikian, bentuk kepulauan Indonesia yang kompleks justru menjadi bagian penting dalam sistem perpindahan massa air antara kedua samudra.
Mengapa Arlindo Penting bagi Iklim Indonesia?
Arlindo bukan sekadar arus laut yang melewati perairan Indonesia. Arus ini membawa massa air dan panas dari Samudra Pasifik menuju Samudra Indonesia.
Karena itu, perubahan yang terjadi di Pasifik dapat terbawa melalui arus ini menuju wilayah Indonesia.
Inilah yang membuat Arlindo mempunyai hubungan erat dengan variabilitas iklim Indonesia.
Buku ini bahkan menyebut bahwa Arlindo sangat mengendalikan sistem iklim di wilayah Indonesia bagian timur, terutama berkaitan dengan dampak fenomena ENSO di Pasifik.
Hal tersebut sebenarnya dapat kita pahami dari pembahasan sebelumnya.
Jika kondisi laut berubah di Pasifik, maka massa air yang bergerak melalui Arlindo juga dapat mengalami perubahan.
Massa air tersebut kemudian masuk ke wilayah Indonesia. Akibatnya, perubahan temperatur laut yang dibawa Arlindo dapat memberikan pengaruh terhadap atmosfer di atas wilayah Indonesia.
Dengan kata lain:
Inilah salah satu contoh nyata bagaimana proses laut skala besar dapat memberikan pengaruh terhadap cuaca dan iklim Indonesia.
Warm Pool dan Arlindo
Ada satu istilah penting yang perlu kita kenal yaitu warm pool. Wilayah ini berada di sekitar ekuator Pasifik bagian barat, termasuk di sebelah utara Pulau Papua.
Dalam kondisi normal, warm pool menjadi tempat berkumpulnya arus permukaan dari sistem aliran sabuk dunia sebelum massa air tersebut dihantarkan melalui Arlindo menuju wilayah Indonesia dan kemudian ke Samudra Indonesia.
Penumpukan massa air hangat tersebut juga berkaitan dengan penumpukan panas di lapisan bawah permukaan. Akibatnya, lapisan termoklin menjadi lebih tebal di wilayah warm pool.
Di sinilah kita dapat menghubungkan artikel ini dengan artikel sebelumnya. Kita telah membahas bahwa temperatur tidak seragam dari permukaan hingga kedalaman laut.
Kita juga telah membahas keberadaan termoklin.
Sekarang kita melihat bahwa sirkulasi laut dapat membawa massa air hangat maupun dingin dan kemudian mengubah struktur temperatur kolom air laut.
Ketika El Niño Mengubah Arus yang Masuk ke Indonesia
Hubungan Arlindo dengan iklim Indonesia menjadi semakin jelas ketika terjadi El Niño. Dalam kondisi El Niño, warm pool bergeser ke arah timur di wilayah ekuator Pasifik.
Akibatnya, wilayah di utara Papua mengalami perubahan kondisi laut dan atmosfer.
Pada saat El Niño, Arlindo membawa massa air yang lebih dingin ke wilayah benua maritim Indonesia. Kondisi laut yang lebih dingin tersebut kemudian menghambat penguapan dan berkontribusi terhadap berkurangnya hujan di Indonesia.
Jadi, hubungan El Niño dengan kekeringan di Indonesia tidak hanya dapat dipahami melalui perubahan atmosfer.
Ada bagian proses yang berlangsung melalui laut. Hal ini juga menjelaskan mengapa kondisi laut menjadi sangat penting dalam memantau dan memahami fenomena ENSO.
Laut Membawa Sinyal yang Lebih Lambat tetapi Lebih Bertahan
Ada perbedaan penting antara atmosfer dan laut. Atmosfer dapat berubah sangat cepat. Awan dapat tumbuh dan kemudian menghilang hanya dalam hitungan jam.
Sebaliknya, laut mempunyai kapasitas penyimpanan panas yang besar sehingga perubahan kondisi laut berlangsung lebih lambat.
Pada artikel sebelumnya kita telah membahas sifat ini sebagai semacam memori laut.
Sekarang konsep tersebut menjadi lebih jelas. Ketika suatu perubahan terjadi di Pasifik, sinyal tersebut tidak harus langsung terlihat sebagai perubahan cuaca di Indonesia.
Perubahan dapat terlebih dahulu muncul pada kondisi laut, kemudian dibawa melalui sistem arus.
Karena itu, pemantauan temperatur laut, tinggi muka laut dan salinitas dapat memberikan informasi penting mengenai perubahan kondisi laut yang sedang berlangsung.
Perlunya pemantauan perubahan arus laut melalui parameter seperti suhu, tinggi muka laut dan salinitas untuk mendeteksi lebih dini kedatangan gejala El Niño yang dapat memberikan dampak negatif terhadap pertanian dan kebakaran hutan.
Arlindo Bukan Hanya Soal Arus
Jika kita melihat Arlindo hanya sebagai "air yang mengalir dari Pasifik ke Indonesia", kita akan kehilangan bagian terpentingnya. Arlindo sebenarnya merupakan bagian dari sistem yang lebih besar.
Di belakangnya terdapat:
Setiap bagian saling berhubungan. Perubahan pada satu bagian dapat memberikan respons pada bagian lainnya.
Karena itu, mempelajari meteorologi laut Indonesia tidak cukup hanya dengan mempelajari atmosfer Indonesia.
Kita perlu melihat bagaimana kondisi laut di Pasifik dan Samudra Indonesia terhubung melalui perairan Indonesia.
Dari Gelombang hingga Arlindo
Jika kita tarik kembali benang merah dari tiga artikel dalam seri ini, sebenarnya terdapat satu cerita besar.
Pada artikel pertama kita melihat bahwa:
saling bertukar energi, massa dan momentum.
Pada artikel kedua:
Sekarang kita melihat bahwa:
dan:
Kemudian di wilayah Indonesia:
Semuanya kembali kepada satu konsep utama: Laut dan atmosfer merupakan satu sistem yang saling terhubung.
Perubahan yang terjadi di satu wilayah tidak selalu berhenti di wilayah tersebut. Energi dapat merambat sebagai gelombang. Massa air dapat berpindah sebagai arus. Panas dapat dibawa dari satu samudra menuju samudra lainnya.
Dan Indonesia berada tepat di salah satu jalur penting dalam sistem tersebut.
Mengapa Ini Penting bagi Meteorologi Indonesia?
Indonesia memiliki posisi yang sangat unik. Di sebelah timur terdapat Samudra Pasifik dengan warm pool-nya.
Di sebelah barat terdapat Samudra Indonesia. Di antara keduanya terdapat ribuan pulau dan berbagai selat yang menjadi jalur Arlindo.
Karena itu, kondisi laut di sekitar Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh proses lokal. Ada pula pengaruh dari sistem laut yang jauh lebih luas.
Perubahan tersebut kemudian dapat memberikan pengaruh kembali terhadap atmosfer Indonesia.
Inilah yang kemudian membantu menjelaskan mengapa fenomena seperti ENSO di Pasifik dapat memberikan dampak terhadap curah hujan, kekeringan dan berbagai kondisi iklim di Indonesia.
Jadi, ketika kita melihat perubahan cuaca dan iklim Indonesia, jangan hanya bertanya:
"Apa yang sedang terjadi di atmosfer?"
Tetapi juga:
"Apa yang sedang terjadi di laut?"
Dan lebih jauh lagi:
"Dari mana massa air tersebut datang?"
Kesimpulan
Gelombang gravitasi menunjukkan bahwa energi dan gangguan dapat merambat dalam atmosfer maupun lautan.
Di atmosfer, gelombang gravitasi dapat berkaitan dengan pertumbuhan awan. Di laut, gelombang tersebut dapat terjadi pada kedalaman tertentu dan memengaruhi dinamika laut dalam.
Sementara itu, laut memiliki sistem sirkulasi yang jauh lebih luas melalui The Great Ocean Conveyor Belt. Sistem tersebut menghubungkan berbagai samudra melalui aliran permukaan dan laut dalam.
Indonesia menjadi bagian penting dari sistem tersebut melalui Arus Lintas Indonesia atau Arlindo, yang membawa massa air dari Samudra Pasifik menuju Samudra Indonesia melalui perairan Indonesia.
Dengan demikian, Arlindo bukan sekadar fenomena oseanografi.
Perubahan yang dibawa Arlindo dapat memberikan pengaruh terhadap temperatur laut Indonesia dan kemudian memberikan respons terhadap atmosfer.
Dan di sinilah kita kembali kepada gagasan utama dari seri ini: laut dan atmosfer tidak pernah benar-benar bekerja sendiri.
Gelombang membawa energi. Arus membawa massa dan panas.
Dan Indonesia berada di salah satu simpul penting tempat berbagai proses tersebut bertemu.
Referensi:
Aldrian, E. (2008). Meteorologi laut Indonesia. BMG.






0 Comments
Terima kasih atas komentarnya. Mohon tidak meletakkan link hidup yah.