Jurnal Studi Tren Kenaikan CO2 Hasil Pengukuran pada GAW Bukit Kototabang dan Perbandingannya dengan Data Global

Grafik CO2 pada SPAG, Mauna Loa dan data Global
Climate4life.info - Jurnal tentang Studi Tren Kenaikan CO2 Hasil Pengukuran pada GAW Bukit Kototabang dan Perbandingannya dengan Data Global.

Identitas Jurnal

  • Judul : Studi Tren Kenaikan CO2 Hasil Pengukuran pada GAW Bukit Kototabang dan Perbandingannya dengan Data Global.
  • Penulis : Kurnia Endah Komalasari, Wan Dayantolis, Tanti Tritama Okaem
  • Edisi : Vol. 10, No. 2, 16-23








Abstrak

Aktivitas manusia pasca revolusi industri telah menggeser fungsi komposisi alamiah Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer. Konsentrasi GRK yang berlebihan menyebabkan peningkatan temperatur udara di permukaan bumi.

Baca: Bukti bahwa Perubahan Iklim benar terjadi

Kajian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik Karbon Dioksida (CO2) yang diamati oleh SPAG Bukit Kototabang. Pengukuran CO2 ini menggunakan Air Kit Flask Sampler yang dikirim ke NOAA. 

Data dianalisis dengan menggunakan metode Statistik Deskriptif dengan 2 periode data CO2 tahun 2005-2018. Periode pertama (2005-2011) laju kenaikan data sebesar 0.1306 ppm/bulan dan periode kedua (2012-2018) sebesar 0.1988 ppm/bulan serta kenaikan nilai minimum sebesar 3.64% pada periode kedua.

Artikel terkait:

Pengukuran CO2 di SPAG Bukit Kototabang masih berada di bawah rata-rata pengukuran Global dan Mauna Loa meskipun memiliki tren kenaikan yang sama.

Kata Kunci : Gas Rumah Kaca, Karbon Dioksida, Airkit Flask Sampler, Statistik deskriptif



Pendahuluan

WMO (2019) menyebutkan bahwa suhu udara pada tahun 2015, 2016, 2017 dan 2018 mencatatkan rekor 4 tahun terpanas dalam sejarah pencatatan iklim yang ada sejak jaman pra-industri. Rekor suhu terpanas tersebut dikaitkan dengan terus meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Artikel terkait:

Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca akan menyebabkan semakin banyaknya energi gelombang panjang yang terjebak di atmosfer bumi (National Research Council, 2012). IPCC (2018) menekankan perlunya menjaga agar kenaikan suhu global pada level kurang dari 1.5 ΒΊC agar masyarakat dunia dapat terus hidup berkelanjutan.

Gas rumah kaca sendiri terdiri dari empat gas utama yaitu Karbon Dioksida (CO2), Metana (CH4), Nitrogen Oksida (N2O) dan kelompok gas yang mengandung Fluor (Sivaramanan, 2015). Dari keempat gas utama tersebut CO2 dianggap memainkan peran penting dalam pemanasan global (UNFCCC, 2009). 

Karenanya, Florides (2009) menyebutkan pada studi-studi tentang pemanasan global, data tren CO2 dan suhu global akan selalu disandingkan guna menunjukkan korelasi yang terbentuk dari keduanya. CO2 merupakan Gas Rumah Kaca yang secara alami bersumber dari debu letusan gunung berapi dan hasil pernafasan manusia dan hewan. 

Kegiatan manusia seperti pembakaran bahan bakar jenis fosil di sektor energi serta kegiatan industri, transportasi, deforestasi dan pertanian menjadi penyumbang sumber emisi CO2 nonalami. CO2 adalah Gas Rumah Kaca terbanyak kedua di atmosfer setelah uap air (Climate4life, 2019a).

Selengkapnya: Kualitas Udara Memburuk, Pahami Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan Dampaknya bagi Kesehatan

Di Indonesia pengamatan CO2 secara konsisten diamati oleh Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Bukit Kototabang di Sumatera Barat. Kurniawan (2017) menyebutkan SPAG Bukit Kototabang merupakan bagian jaringan Stasiun Global dalam program Global Atmospher Watch (GAW) yang dikoordinasikan oleh WMO

Selain CO2, gas rumah kaca lainnya serta gas polutan lain seperti partikulat dan kimia air hujan diamati di SPAG Bukit Kototabang. Secara administratif SPAG Bukit Kototabang masuk dalam wilayah Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Namun dari segi akses SPAG Bukit Kototabang lebih dekat ke Kota Bukittinggi yang berjarak sekitar 17 km.
Baca: BMKG : 2018 merupakan tahun yang lebih panas dan lebih kering di Indonesia

Dari seluruh stasiun global GAW di dunia, yang berada tepat di sekitar ekuator hanya Stasiun SPAG Kototabang di Indonesia dan Stasiun GAW di Kenya. Namun keduanya memiliki perbedaan signifikan dari sisi keadaan lingkungannya (Climate4life, 2019b). 

Sebagaimana laporan WMO (2019) dan IPCC (2018) bahwa peningkatan suhu global terus terjadi dan sering dengan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca, maka kajian ini dimaksudkan untuk mengkaji karakteristik CO2 yang diamati oleh SPAG Bukit Kototabang dan dibandingkan dengan pengukuran CO2 di Mauna Loa dan data CO2 global.

Berikut file pdf lengkap Jurnal Studi Tren Kenaikan CO2 Hasil Pengukuran pada GAW Bukit Kototabang dan Perbandingannya dengan Data Global.

----000----



Semoga bermanfaat.

Post a Comment

10 Comments

  1. Berarti suhu panas yang meningkat juga mempengaruhi kenaikan CO2 ya bang? Kalau CO2 meningkatkan, berarti udara bisa tidak sehat ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebalik mas, CO2 meningkat maka suhu udara meningkat. Suhu meningkat dapaknya pemanasan global dan ujungnya adalah perubahan iklim

      Delete
    2. Oh seperti itu yang bang.. hihihi

      Delete

  2. Lengkap bang ada PDFnya...

    Apa sama suhu panas didaerah dengan dikota bang...Karena suhu panas sekarang tak menentu dan terkadang suka diselingi hujan juga.😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentunya di kota akan terasa lebih panas karena pohonnya dikit hehe. Tapi tren kenaikan suhu mungkin akan mirip2

      Delete
    2. Selain di kota pohonnya dikit, penyebab panas lain adalah di kota banyak cewek yang pakaiannya terbuka ya bang.πŸ˜‚

      Delete
  3. mantap, Bukit Kototabang berada di bawah rata rata global....
    Sepertinya, memang di mana mana terjadi peningkatan emissi CO2

    # I am following you

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karna Kototabang mewakili Indonesia secara umum tingkat produksi CO2 kita masih lebih rendah dari emisi dunia

      Delete
  4. Mantap rinciannya bang day, sekarang memang rasanya beda dengan saat aku masih kecil. Dulu cuaca agak adem tapi sekarang panas, mungkin itu pengaruh CO2 kali ya bang.

    Belum lagi sekarang musim hujan sebentar tapi airnya deras, giliran kemarau malah lama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi mas Agus, tren CO2 emang meningkat terus seiring kemudian kenaikan suhu udara

      Delete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon tidak meletakkan link hidup yah.